Arsip Warta ICF: Sapaan Pastor
2021
-
Umat ICF Brisbane & Gold Coast yang baik hati,
Semoga kamu sehat dan baik-baik saja. Ketika kamu mendengarkan salam ini kita sudah mau merayakan Natal 2020 dan masuk Tahun Baru 2021. Harapan baru banyak disematkan untuk tahun yang akan datang setelah kita menjalani tahun 2020 yang penuh ketidakpastian karena pandemi. Mungkin ada rasa frustrasi, putus asa dan membingungkan. Wajar. Saya sendiri sebagai anak manusia merasa kesedihan mendalam karena kehilangan ayah tercinta dan saya tidak bisa memberikan penghormatan terakhirku sebagai anak yang berbakti kepada orangtua.
Diantara kita bisa jadi ingin melupakan tahun 2020 atau menganggapnya tidak pernah ada. Kita semua menjadi saksi hidup akan keganasan virus covid19 ini. Sejatinya untuk keluarga besar ICF Brisbane-Gold Coast, tahun ini adalah tahun rahmat karena kita merayakan perak, 25 tahun sejak dimulai.
Panitia dan seluruh umat sungguh mempersiapkan dengan sepenuh hati mulai dari perencanaan yang matang, mengumpulkan uang, membuat berbagai acara, menganimasi umat, booking venue hingga berbagai promosi. Namun manusia merencanakan tapi Tuhanlah yang menentukan.
Belajar dari pengalaman rontoknya harapan untuk tahun 2020, banyak pihak tidak terlalu tinggi meletakkan harapan untuk tahun 2021. Sikap lebih realistis ini adalah upaya meredam kecewa lantaran pandemi belum sungguh-sungguh teratasi.
Betul, sejumlah vaksin sudah ditemukan dan akan disuntikkan untuk mengakhiri pandemi ini. Namun, bagaimana vaksin diproduksi, bagaimana secara adil didistribusikan, bagaimana secara tepat diberikan dan bagaimana-bagaimana lainnya belum ada kejelasan.
Kamu tidak perlu takut atau kuatir karena kita aman di Queensland, Australia. Tuhan melalui Pemerintah kita sungguh menjagamu dengan baik dengan berbagai protokolnya. Jangan lupa mencuci tangan, berdoa, dan menjaga jarak aman dengan yang lain.
Jangan pernah kehilangan harapanmu, jangan juga merasa putus asa karena impianmu belum tercapai masih banyak berkat tersedia untukmu. Lebih dari itu jadilah berkat untuk sesama. Walaupun rasanya, hidup memang tidak pernah adil.
Akhir tahun yang kita bayangkan penuh dengan gelak tawa dan kebahagiaan di awal pandemi ternyata ambyar. Semua rencana baik yang disiapkan mengakhiri tahun ini ternyata tidak semua terwujud.
Kondisi dalam ketidakpastian yang panjang ini semoga tetap membuatmu bisa tersenyum. Kecewa pasti ada. Bagaimana mencegah kecewa? Meletakkan harapan pada tempat sewajarnya adalah jawabnya.
Harapan kita ialah Dia yang baru lahir yakni Yesus Kristus, “Ia akan menghapus setiap air mata dari mata mereka dan maut tidak akan ada lagi, tidak akan ada lagi perkabungan, tangisan atau rasa sakit karena yang lama sudah berlalu.” (Wahyu 21:4).
Kelahiran Yesus Kristus Tuhan kita adalah satu-satunya alasan merayakan Natal setiap tahun. Terima kasih atas segala sumbangan dan partisipasimu selama tahun 2020 sehingga Pastor bisa makan, bergerak untuk melayani dan komunitas berjalan dengan baik. Banyak tangan-tangan tak terlihat mendorongnya sehingga berjalan walaupun kadang sepoyongan.
Semoga Natal kali ini sungguh menerangi jalanmu dan Yesuslah satu satunya alasan kita merayakan Christmas. Selamat Natal dan Tahun Baru 2021 damai bersamamu.
Saudaramu dalam Kristus,
Fr Martinus Situmorang OFMCap
-
Description text goes here
-
Description text goes here
2022
-
Umat ICF Brisbane-Gold Coast yang hatinya baik,
Perayaan Natal yang gegap gempita kita rayakan mengakhiri tahun 2021 dengan iringan koor yang membahana, kita semua bergembira seperti mendapatkan energi baru memulai tahun yang sedang datang, tahun yang baru.
Sayang bahwa kegembiraan kita tidak berlangsung lama karena dikejutkan oleh berita varian baru Covid19 yang diberi nama Omicron oleh para ahli. Ketika kita semua siap-siap mau merayakan pergantian tahun dengan penuh harapan terpaksa mengurung diri demi keselamatan karena masih ada hari esok yang penuh bahagia, tidak perlu dipertaruhkan saat ini. Mencegah lebih baik daripada mengobati.Bulan February adalah bulan kasih sayang karena setiap tanggal 14 seluruh dunia terutama kaum muda merayakannya sebagai Valentine Day. Sejatinya bukan hanya pada hari ini saja kita perlu menunjukkan cinta satu sama lain melainkan setiap hari dengan saling mendahului dalam memberi hormat. Alkitab memiliki banyak ayat-ayat yang bisa memberikan beragam pembelajaran untuk setiap manusia, termasuk mengenai cinta dan kasih. Kedua hal itu perlu ditanamkan dengan baik. Sehingga dapat menjadi teladan dan menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari.
Tuhan mengajar kita agar saling menebar cinta dan kasih sayang kepada sesama. Selain itu, bentuk cinta kepada Sang Penciptapun tetap harus diimani dan diterapkan dengan baik, “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.” (Yohanes 15:17).
Manusia itu paradoks. Dengan lidah kita memberkati dan dengan lidah juga kita mengutuki. Kita mampu membangun gedung tinggi menjulang ke langit, tapi ternyata bangunan jiwa kita semakin kerdil dan picik. Kita mampu membangun rumah doa megah mengkilap, tapi ternyata rumah hati kita semakin sumpek kotor dan memuakkan.
Kita mampu menggiring dan menggerakkan selaksa manusia dengan opini-opini dan pilihan tata kata yang mumpuni, tapi ternyata kita tak mampu mengendalikan diri sendiri yang cuma seorang. Kita mampu melantunkan cinta Firman Tuhan di rumah-rumah suci, tapi ternyata bibir kita melontarkan titah kebencian di jalan-jalan dengan gossip-gossip secara berjamaah. Inilah paradoks kita. Sejatinya manusia itu dicipta secitra dengan Tuhan, manusia diciptakan menurut gambaran Allah (Kejadian 1:26-27).
Umat manusia merupakan satu kesatuan karena kita semua mempunyai asal yang sama yaitu Allah. Kita semua adalah saudara-saudari dalam Tuhan. Egolah yang membedakan dan memisahkan kita satu sama lain. Itulah dosa itu. Karena itu marilah saling memberikan diri secara total dengan saling melayani atas dasar kasih karena Allah adalah Kasih (1 Yohanes 4: 7-21).Tuhan memberkati dan menjagaimu,
Fr Martinus Situmorang OFMCap -
Umat ICF Brisbane-Gold Coast yang hatinya baik,
Percaya diri itu perlu. Whatever you do today do it with confidence of a 4 year old in a Batman Tshirt. Hal terburuk yang bisa terjadi pada diri kita, kapan saja dan di mana saja, adalah "Terlalu percaya bahwa diri kita selalu benar”. Ke-PD-an dan tidak pernah koreksi diri. Hal yang demikian ini akan menjauhkan diri kita dari Tuhan, dari sesama dan juga akan menjerumuskan diri kita ke dalam dosa kesombongan.
Hanya pertobatan yang bisa membuka pintu hati Tuhan dan pintu hati sesama untuk kita. Mengasihi tanpa syarat dan dengan derita adalah sebuah karakter khusus Kristiani. Sering pada awalnya hal itu menjadi suatu kebodohon. Kita sering sekali menjadi geram melihat bagaimana orangorang benar yang menjiwai cinta kasih Kristiani mengalami kesulitan dalam hidup, seolah-olah ditinggalkan dan tak dipedulikan oleh Allah sama sekali. Sia-siakah doa-doa kasih kita, atau perbuatan baik yang kita curahkan kepada orang-orang yang tak tahu membalas budi? Apakah mencinta dalam derita akan menghasilkan buah? Kata Yesus, ya. Yang barangkali kita perlu pertanyakan adalah: sudah cukupkah kita mencinta? Ataukah cinta yang kita berikan itu sudah berkelimpahan? Kelihatannya buah-buah cinta itu tergantung dari porsi cinta kita, sebab seperti kata Tuhan: “....ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk. 6:38).
Ada sementara orang percaya pada karma, atau tabur tabur tuai dalam Bahasa kita. Bahasa jawa “gusti Allah mboten sare”. Biarlah pembalasan itu milik Allah. Tidak ada keluarga yang sempurna. Kita tidak punya orang tua yang sempurna. Kita tidak sempurna, tidak menikah dengan orang yang sempurna, kita juga tidak memiliki anak yang sempurna. Karena itu, tidak ada juga pastor yang sempurna. Ada yang kocak, ada yang pendiam, ada tukang makan sampai kegendutan. Pastor melayani dan memperkaya dengan keunikannya. Tidak ada juga umat yang sempurna. Kita membandingkan satu dengan yang lain, kita saling melukai satu sama lain. Kita memiliki keluhan akan satu sama lain, Kita kecewa dengan satu sama lain.
Karena itu, tidak ada pernikahan yang sehat atau keluarga yang sehat tanpa pengampunan. Tidak ada komunitas yang sehat tanpa pengampunan. Tanpa pengampunan keluarga menjadi sebuah teater konflik dan benteng keluhan. Tanpa pengampunan keluarga menjadi sakit. Mari saling mengampuni.
Kebaikan ialah mencintai tanpa paksaan. Itu adalah pilihan. Jika ingin mengalami hati Allah capailah melalui jalan belas kasih. Tuhan memenangkan kebaikan atas kejahatan melalui kekuatan-Nya dan kreatifitas-Nya yang tak terbatas. Tuhan memberi kita jalan sederhana untuk mencapai kesucian yakni dengan perintah mengasihi Tuhan dan tetangga sebagai mana mereka adanya. Kehidupan akan jadi indah ketika kita mengalami damai dalam Tuhan. Kegelisahan suci dalam Injil adalah satu-satunya kecemasan yang memberi kedamaian. "Janganlah seperti Cabe semakin tua semakin pedas, tetapi jadilah seperti tebu makin tua makin manis".
Mencintai sampai terluka? Santa Teresa Kalkuta berkata, “Jika kita mengasihi sampai terluka, maka tak akan ada lagi luka, justru kasih semakin mendalam semata yang ada!” I have found the paradox, that if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love. Karena disana ada pengampunan. “Mengampuni adalah seperti bunga Natninole yang memberikan keharumannya kepada orang yang menginjaknya”.
Sebagai orang yang mengalami banyak penolakan saya sungguh tergugah. Banyak akar pahit yang tumbuh. Memaafkan adalah pintu pendamaian dan kebahagiaan. Pintu itu kecil, sempit dan tidak dapat dimasuki tanpa membungkuk. Be good enough to forgive people but don’t be stupid enough to trust them again.
Tak ada cinta tanpa luka, terutama bagi yang mencinta. Tak ada kasih tanpa perih dan pedih, bagi yang mengasihi. Namun dalam cinta luka tak akan ada lagi selain cinta yang semakin peduli. Dalam kasih luka tak ada lagi selain kasih yang kian mendalam. Jika kamu belum terluka berarti belum cukup mencintai. Jika belum cukup mencintai berarti belum cukup melayani.
Cinta dan Kasih Allah sungguh nyata di dalam diri kita sampai saat ini. Kita sering mendengarkan dan mengucapkan kata ‘cinta’, namun hanyalah sebatas kata tanpa makna yang sebenarnya terkandung di dalam kata cinta itu sendiri. Mencintai hingga terluka ingin membawa kita pada pengalaman akan Cinta yang mendalam sampai pada pemberian diri total. Tentu saja kenyataan itu hadir di dalam diri Yesus Kristus.
Cinta adalah salah satu aspek dalam kehidupan manusia yang paling banyak dibicarakan, dibahas, dan dipelajari. Entah sudah berapa banyak buku ditulis, novel, dan film dibuat, tetapi cinta tidak pernah menjadi klise. Kita merasakan puncak kenikmatan hidup ketika kita mencintai dan dicintai. Tetapi pada waktu yang bersamaan kita berisiko mengalami kepahitan hidup paling dalam jika cinta kita dikhianati atau tidak memperoleh tanggapan yang kita kehendaki. Jika risikonya begitu jelas, mengapa kita masih mau mencintai dengan melayani?
Santo Paulus menuliskan dalam suratnya bahwa ada 3 hal utama, yakni iman, pengharapan dan kasih. Namun demikian yang paling besar adalah kasih (1 Kor 13:13). Kasih menjadi yang terbesar karena Allah adalah Kasih dan Kasih itu memberi hidup kepada manusia. Kasih merupakan dasar bagi kehidupan manusia. Berbagai permasalahan muncul di dalam kehidupan kita, selalu berkaitan dengan kasih. Oleh karena itulah Yesus memberikan perintah baru, yakni supaya kita saling mengasihi seperti Ia yang telah mengasihi kita semua.
Kasih dilambangkan pula dengan hati atau jantung. Ini menunjukkan keseluruhan pribadi manusia dengan totalitasnya. Dari hati ini mengalir kehidupan bagi kita dan sesama kita. Dengan cinta atau kasih, kita membuka hati bagi sesama. Yesus mengundang untuk datang kepada-Nya, Ia akan memberikan kesegaran. Yesus memberikan diri-Nya sebagai air kehidupan, yang menyegarkan dan menghidupkan.
Begitu pula semakin nyatalah bahwa Kasih itu memberi dan menerima karena hati-Nya selalu terbuka. Yesus menekankan Perintah Kasih ini, yang di bagian keduanya mengatakan, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Di sinilah terletak kesamaan semua manusia. Bahkan Yesus pun menjadi manusia dan sungguh manusia.
Dari kasih inilah lahir belaskasih yang menjadi nyata di dalam tindakan. Dalam hidup-Nya, Yesus selalu tergerak hati-Nya oleh belaskasih, maka Ia bertindak menunjukkan kasih-Nya kepada semua yang membutuhkan. Kasih menghantar kita kepada tindakan kasih dalam terang kasih itu, kita berbagi kasih dan berbelaskasih.
Dalam peristiwa Salib, Yesus menyelesaikan seluruh perjuangan-Nya di dunia ini. Di Salib itulah Yesus berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk 23:46). Sabda Yesus ini merupakan bentuk penyerahan diri-Nya secara total kepada Bapa-Nya. Inilah pengorbanan hidup-Nya hingga tuntas. Kematian Yesus menjadi tanda nyata cinta-Nya kepada Bapa dan manusia. Semuanya ini mengingatkan kembali ajaran-Nya, yang mengatakan bahwa seorang sahabat adalah ia yang siap menyerahkan hidupnya bagi sesamanya.
Ketika Yesus telah wafat, serdadu masih menikam lambung-Nya dengan tombak sehingga keluarlah darah dan air. Peristiwa ini menunjukkan totalitas cinta Yesus sampai habis. Darah dan air menjadi tanda nyata penyerahan kehidupan-Nya kepada kita semua. Darah adalah hidup yang mengalir dari hati-Nya, jantung-Nya, yakni dari seluruh pribadi-Nya. Dengan demikian manusia mendapat aliran kehidupan dari Yesus yang wafat. Begitupun air yang mengalir menjadi penyucian bagi semua manusia yang berdosa sehingga dibersihkan.
Inilah yang dikatakan sebagai Cinta dan Pengorbanan. Cinta yang menjadi kekuatan dasar dan merupakan hidup itu sendiri sekarang sungguh diberikan kepada Tuhan dan sesama. Cinta yang sejati menghantar juga pada sebuah pemberian diri secara utuh dalam pengorbanan. Maka pengorbanan itu sendiri menjadi bagian Cinta dan itu tidak terpisahkan, oleh sebab itu tidak ada cinta tanpa pengorbanan dan persembahan diri. Dalam cinta selalu terkandung dimensi pemberian diri dan pengorbanan.
Sekali lagi jika kamu belum terluka berarti belum cukup mencintai. Jika belum cukup mencintai berarti belum cukup melayani. Hanya orang-orang yang bertahan dan hanya orang-orang yang memiliki mental baja yang akan keluar jadi pemenang. Kami bukan lebih genius darimu. Kami bukan lebih hebat dari kalian, Kami hanya bertahan lebih lama saat menghadapi masa-masa sulit. Karena kami yakin bahwa Tuhan akan selalu menyertai. Bertahan lah. Jika salah, perbaiki. Tetapi ketika kamu menyerah. Semuanya selesai.
Tuhan memberkati,
Fr Martinus Situmorang OFMCap -
Umat ICF Brisbane-Gold Coast yang hatinya baik,
Dalam liturgi Gereja Katolik, terdapat Tri Hari Suci Paskah atau Paschal Triduum sebagai tiga hari sakral perayaan Paskah. Selama tiga hari suci Paskah ini, Gereja merayakan misteri terbesar karya penebusan: sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus.
Easter Triduum (Latin: Triduum Paschale), Holy Triduum (Latin: Triduum Sacrum), or Paschal Triduum, or The Three Days, is the period of three days that begins with the liturgy on the evening of Maundy Thursday, reaches its high point in the Easter Vigil, and closes with evening prayer on Easter Sunday.
Dengan Missa in cena Domini, dibukalah Tri Hari Suci Paskah dan sekaligus menutup prapaskah. Pada hari tersebut kita merayakan kembali perjamuan Malam Terakhir. Disebut sebagai perjamuan terakhir karena pada malam itu, Yesus mengadakan perjamuan yang terakhir bersama dengan murid-murid-Nya. Malam itu, Yesus mendirikan imamat, ekaristi dan perintah cinta kasih.
Disebut Kamis Putih karena warna liturgi pada hari itu berwarna putih. Imam mengenakan kasula (jubah luar) berwarna putih. Bunga-bunga penghias altar juga sebaik mungkin warna putih. Warna putih ini melambangkan kemuliaan dan kesucian. Perayaan Kamis Putih sebagai perayaan khusus perjamuan Ekaristi yang diadakan oleh Tuhan Yesus pada Perjamuan Terakhir ini ditetapkan sejak Konsili Hippo (393 M).
Suasana yang sunyi, nyanyian tanpa musik, altar yang kosong, tabernakel terbuka lebar, lampu merah yang menandakan kehadiran Tuhan dipadamkan, dan lampu Gereja yang mati. Jumat Agung adalah hari kita memperingati wafat Kristus. Pada hari itu, seluruh umat Katolik diharapkan melakukan tindakan pantang atau puasa (bagi yang mampu). Satu hal penting yang perlu kita ketahui adalah seluruh perayaan yang kita lakukan pada Jumat Agung adalah ibadat bukan Perayaan Ekaristi. Pada hari Jumat Agung, tidak ada peristiwa konsekrasi atau doa syukur agung yang biasa dilakukan Imam. Komuni yang dibagikan pada ibadat Jumat Agung adalah Hosti yang telah dikonsekrasikan pada malam sebelumnya (Kamis Putih). Dan sakramen yang boleh diberikan pada hari Jumat Agung hanyalah Sakramen Tobat dan Sakramen Perminyakan.
Pada hari Sabtu pagi sampai menjelang malam, Gereja tidak melakukan kegiatan peribadatan apapun. Tabernakel masih terbuka dan lampu Tabernakel juga masih mati. Selain itu, tempat air suci di pintu-pintu masuk gereja juga dikeringkan. Suasana terasa muram. Sakramen yang boleh dibagikan pada hari tersebut pun hanya Sakramen Tobat dan Sakramen Perminyakan. Gereja memang tidak melakukan kegiatan peribadatan apa pun selama Sabtu Suci, karena Gereja masih mengenangkan Yesus yang berada di dalam makam. Sepanjang pagi sampai sore di hari Sabtu itu, Gereja mengajak umat untuk hening dan merenungkan sengsara dan wafat Tuhan di kayu Salib, memberitahu umat bahwa Yesus sedang turun ke dunia orang mati; dan menanti dengan penuh kerinduan kebangkitan Yesus dengan berdoa dan berpuasa. Pada hari Sabtu Suci, Yesus beristirahat dalam makam karena Ia telah memperoleh kemenangan. Gereja pun menantikan dengan penuh kerinduan bangkitnya Kristus dari alam maut.
Pada saat raga Yesus beristirahat dalam makam, jiwa Yesus turun ke dunia orang mati mencari Adam dan Hawa yang disiksa oleh Iblis. Yesus menarik mereka keluar dari dunia orang mati. Yesus memberi kehidupan baru bagi Adam dan Hawa, selain mencari Adam dan Hawa, Yesus juga turun ke dunia orang mati untuk mengunjungi semua orang yang telah datang, sebelum Yesus hadir ditengah-tengah kita untuk mewartakan sukacita kebangkitan seperti para Nabi terdahulu.
Berbeda dengan suasana Sabtu Sunyi yang hening dan begitu muram. Malam Paskah adalah saat di mana kita merasakan sukacita besar sambil berjaga-jaga menantikan kebangkitan Tuhan. Yesus yang wafat akhirnya beralih dari alam kematian menuju kebangkitan. Pada perjanjian lama, Malam Paskah merupakan peristiwa penantian lewatnya Tuhan di tanah Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Firaun. Saat Malam Paskah ini umat Katolik juga akan memperbaharui kembali Sakramen Babtis yang telah diterima. Malam Paskah dapat juga disebut dengan vigili Paskah. Vigili berasal dari kata vigilis yang artinya berjaga-jaga atau bersiap-siap. Pada perayaan malam Paskah ini kita berjaga-jaga bersama Yesus. Bersiap-siap menantikan kebangkitan Yesus dari kematian menuju kehidupan yang baru. Tata cara perayaan malam Paskah dijalankan oleh Gereja Katolik didasarkan pada dekrit Ad Vigiliam Paschalem (tentang Vigili Paskah) yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII pada tahun 1951.
Minggu Paskah disebut juga Hari Raya Kebangkitan Tuhan. Hari Raya Kebangkitan Tuhan ini adalah hari raya dari segala hari raya. Hari itu menjadi hari yang sangat istimewa karena Yesus telah bangkit dari kematian. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut dengan kebangkitan-Nya. Hal yang menjadi pembeda yang besar perayaan Ekaristi pada hari itu dengan perayaan Ekaristi pada hari Minggu atau hari raya yang lain adalah dihilangkannya seruan tobat dengan pemercikan air suci. Ini dikarenakan Kristus telah bangkit dari dosa dan telah menebus seluruh dosa kita. Air suci yang digunakan untuk memerciki umat adalah air perayaan Malam Paskah. Air itu pula yang ditempatkan di pintu masuk gereja yang digunakan umat saat akan memasuki gereja. Selain adanya pemercikan air suci, pada hari ini juga dilagukan Madah Paskah. Madah Paskah ini dinyanyikan sebelum bait pengantar Injil. Lilin Paskah yang telah dinyalakan dengan Api Baru pada perayaan Malam Paskah ditempatkan di posisi yang cukup tinggi dekat altar. Lilin Paskah ini dinyalakan sepanjang masa Paskah selama 50 hari pada saat ada perayaan Ekaristi. Bila masa Paskah telah berakhir, lilin Paskah ini tetap disimpan dan dinyalakan bila ada upacara penerimaan Sakramen Baptis.
Selamat Hari Raya Paskah! Selamat menjalani kehidupan baru dalam Tuhan!
Fr Martinus Situmorang OFMCap -
Umat ICF Brisbane-Gold Coast yang hatinya baik,
Mei sudah sejak lama menjadi bulan Maria untuk umat Katolik seluruh dunia. Banyak devosi kita lambungkan kehadirat Tuhan untuk perdamaian dunia. Bulan Mei adalah salah satu yang kaya akan tradisi dan waktu yang indah sepanjang tahun untuk menghormati ibu surgawi kita. Kita mempunyai ibu bersama yang selalu merawat dan menuntun kita.
Keibuan Maria tampak sejak ia mau kerjasama dengan rencana Allah dengan mengatakan “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan mu.” (Lukas 1:38). Rahmat akan selalu ada dan tersedia berlimpah bagi semua yang mau taat pada kehendak Tuhan. Kita semua mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan berkat itu.
Ketika kamu membaca sapaan ini, saya sedang menikmati kebersamaan dengan para saudara Kapusin di Indonesia, khususnya di sekitar Sibolga, Sumatera Utara. Saya sungguh menikmati semua kegiatan liburanku. Cukup banyak waktu saya gunakan bersama dengan adek adekku dengan keponakan. Ada tiga orang keponakan saya baptis lalu saya mengikuti acara tahbisan delapan orang imam baru di Pangaribuan. Dengan demikian bertambah para penuai di kebun anggur Tuhan.
Sudah menjadi tradisi setelah tahbisan imamat ada misa perdana dikampung halaman masing-masing imam baru. Saya sempat mengikuti beberapa diantara mereka. Sukacita selalu terpancar baik dalam wajah keluarga imam baru maupun seluruh umat. Banyak berpesta, makan, menari dan bercerita untuk saling menguatkan dan meneguhkan.
Ada satu acara yang menarik perhatianku yakni perayaan Kemandirian Suster Suster Klaris Kapusines di Aek Raso. Saya menginap di biara mereka satu malam. Para suster mengabdikan hidupnya pada doa. Hidup mereka sangat tergantung pada belas kasihan orang dan para penderma. Mereka membuat hosti, pakaian Misa dan lilin. Luar biasa penyelenggaraan Tuhan dalam pembangunan tempat mereka tinggal. Tanpa modal sepeserpun mereka berani memulai membangun gedung milyaran rupiah. Semua berjalan berkat dukungan para penderma. Walaupun belum selesai namun karya Tuhan sangat tampak.
Saya sendiri sangat sehat walaupun cuaca agak panas dalam arti sebenarnya. Banyak berkeringat dan kurang istirahat. Namun hati senang. Semoga kamu semua sehat dan sampai bertemu di bulan Juni.
Fr Martinus Situmorang OFMCap
-
Umat ICF Brisbane-Gold Coast yang hatinya baik,
Ketika Gereja merayakan Hari Raya Pentakosta, yaitu hari turunnya Roh kudus atas para rasul / Gereja, Hari Raya itu kita peringati pada hari kelima puluh sesudah kebangkitan Kristus. Hari Raya ini juga sekaligus menjadi ulang tahun Gereja.
Ada beberapa pokok permenungan yang kita angkat: Pertama, hari itu merupakan kegenapan janji Yesus kepada para murid. Selama pelayananNya di dunia, Yesus berjanji kepada para murid bahwa bila Dia pergi ke tahta Allah Bapa di surga abadi, Dia akan mengutus Roh Penghibur, Roh Penolong, yaitu Roh Kudus bagi para murid untuk mendampingi mereka. Kini janji itu dipenuhi oleh Yesus Kristus. Itu pertanda bahwa Yesus sungguh setia mendampingi para murid dan menggenapi janjiNya kepada mereka.
Kedua, kehadiran Roh kudus mempersatukan. Dalam dari Kisah Rasul, tampak jelas bahwa Roh Kudus mempersatukan Gereja. Mereka berbeda asal dan daerah serta bangsa, berbeda bahasa. Namun, karena Roh Kudus mereka bisa saling mengerti. Karena Roh kudus mereka jadi satu. Kita juga berasal dari beragam suku, daerah dan makanan. Namun kita mempunyai tujuan yang sama yakni menyembah Tuhan yang sama bersama segenap umat Allah.
Ketiga, Roh Kudus menjadikan para murid / Gereja hidup saling mencintai. Roh Kudus selalu menyuburkan cinta. Karena itu orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus selalu dipenuhi cinta untuk memperhatikan, menghibur, mendidik, saling memaafkan, dan menolong orang lain. Di mana ada Roh kudus, di situ ada cinta kasih.
Saudara-saudari sekalian, marilah kita mohon agar Allah mencurahkan Roh kudusNya bagi kita bagi GerejaNya, agar kita menjadi duta-duta perdamaian, persatuan dan cinta.
Tuhan memberkati,
Fr Martinus Situmorang OFMCap
-
Umat ICF Brisbane-Gold Coast yang hatinya baik,
Setiap tanggal 29 Juni Gereja merayakan Hari Raya St. Petrus dan Paulus, dua tonggak sejarah Gereja sesudah wafat dan kebangkitan Kristus. Dengan sengaja Gereja merayakan kedua rasul besar ini secara berdua, karena peranan mereka yang sangat penting.
Rasul Petrus, rasul pertama yang dipilih Yesus adalah saksi hidup Yesus, yang kemudian sangat berperan dalam penginjilan kepada kalangan Yahudi. Kepadanya Yesus pertama kali menyerahkan tongkat penggembalaan Gereja, "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku mendirikan jemaat-Ku dan alam.maut tidak menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga." (Matius 16:13-19). Rasul Paulus, memang bukan saksi mata hidup Yesus, tetapi saksi iman yang sangat mengagumkan. Ia "ditangkap" Tuhan dalam perjalanan ke Damsyik ketika bermaksud mengejar dan menganiaya pengikut Kristus. Akhirnya ia menjadi rasul agung, seorang yang sangat berkobar-kobar mewartakan iman Kristus yang bangkit kepada semua orang khususnya yang bukan Yahudi. Dengannya Gereja semakin terbuka, dan akhirnya berkembang hingga seperti sekarang ini.
Kedua rasul ini menjadi martir agung, lewat pewartaan dan pelayanan mereka berdua maka Gereja bertumbuh dan berkembang dengan sehat. Pada hari raya kedua rasul agung ini, kita diajak untuk meniru semangat mereka: semangat mewartakan Injil Kerajaan Allah kepada semua orang, baik lewat perkataan pun lewat perbuatan. Dengan demikian kita ikut serta membangun Kerajaan Allah. Menghadirkan Allah dimanapun kita berada.
Sensus lima tahunan yang diumumkan kemarin sungguh mengejutkan kita semua. Data yang diberikan menunjukkan bahwa Australia lima tahun lalu berbeda dengan saat ini. Sensus Australia tahun 2021 mengungkapkan bahwa untuk pertama kalinya, tidak sampai setengah warga Australia mengaku beragama Kristen (Katolik dan Protestan). Populasi Australia mencapai 25,4 juta tahun lalu. Kira-kira sama dengan jumlah orang di Jakarta pada siang hari waktu kerja.
Untuk pertama kalinya, kurang dari setengah orang Australia mengatakan bahwa mereka beragama Kristen. Padahal, 43,9 persen partisipan sensus mengatakan bahwa populasi kekristenan merupakan kepercayaan mayoritas. Sementara itu, jumlah warga Australia yang mengaku tidak beragama naik sampai angka 38,9 persen, dari 30,1 persen di tahun 2016.
Lebih tepatnya, jumlah orang tidak beragama tahun 1996 adalah sekitar 2,9 juta orang, naik menjadi 9,8 juta orang di tahun 2021. Tahun 1996, warga Australia yang mengaku Kristen lebih 12 juta orang. Sementara di tahun 2021 turun menjadi sekitar 11 juta orang. Agama yang mengalami pertumbuhan jumlah penganut tercepat adalah Hindu (2,7 persen populasi Australia) dan Islam (3,2 persen), meskipun jumlahnya tetap minoritas kecil.
Kekristenan terutama Anglikan adalah agama yang dianut 90 persen warga Australia sampai pada tahun 1966, ketika pengaruhnya sedang kuat-kuatnya. Bisa jadi arus migrasi dari berbagai bangsa telah mempengaruhi tren tersebut, meskipun kebanyakan perubahan disebabkan oleh semakin banyaknya ateis dan sekuler.
Informasi tersebut membantu pemerintah meningkatkan layanan mereka, dan membantu peneliti dan bisnis dalam lebih memahami masyarakat. Data diatas juga memberi kita gambaran dimana kita berada dan memberi inspirasi kemana kita akan berangkat. Inspirasi dari dua sokoguru Gereja kita yakni Petrus dan Paulus memberi cahaya dan menggarami dimanapun kita berada.
Tuhan memberkati,
Fr Martinus Situmorang OFMCap
-
Umat ICF Brisbane-Gold Coast yang hatinya baik,
“Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala. Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban!” Mikha 7:14-15.
Nabi Mikha melihat bahwa sikap sebagian orang Israel pada zamannya yang lari dari Tuhan dan menyembah dewa-dewi asing merupakan sebuah kesesatan besar. Aneh bahwa sekalipun mereka sebenarnya telah menyaksikan pertolongan dan kemurahan Tuhan, mereka masih lari menjauh dari Tuhan. Sekalipun teman sebangsanya berlaku demikian, Nabi Mikha tetap setia pada Tuhan dan memohon pengampunan dari Tuhan bagi teman sebangsa itu. Mikha percaya bahwa kemurahan Tuhan mengatasi segalanya. Dia adalah Allah Pemurah dan Pengampun, yang selalu memperhatikan orang yang berseru kepada-Nya. Ia tidak membalas segala kejahatan dan pelanggaran umat-Nya, tetapi mengampuninya dan merangkul Kembali. Dalam iman yang sama, kita mesti selalu berani kembali kepada Tuhan, dan kembali mohon berkat-Nya, dan selanjutnya kembali menjadi pewarta belas kasih dan pengampunan-Nya. Kita mewartakan semangat Tuhan dengan hidup saling mengampuni dan mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
Bulan ini bulan Agustus bangsa kita Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan yang ke 77. Usia yang sangat matang jika dibandingkan dengan umur manusia. Kemerdekaan adalah anugerah Allah yang diberikan kepada setiap bangsa dan individu. Karena dalam alam kemerdekaan itulah setiap bangsa dan individu dapat bertumbuh dan mengembangkan seluruh potensi sumber daya manusia secara benar untuk menghadirkan kesejahteraan lahir dan batin, damai sejahtera di muka bumi.
Waktu yang panjang telah dianugerahkan bagi bangsa Indonesia hidup dalam alam kemerdekaan untuk menghapus segala bentuk penjajahan, diskriminasi, ketidakadilan, kemiskinan dan aneka keterbelakangan di Indonesia. Yesus mengingatkan kita semua agar setia memelihara dan merawat kemerdekaan dengan bersikap hormat dan taat terhadap pemerintah yang legal. Kita diajak untuk patuh menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Apa yang wajib kita lakukan kepada bangsa dan negara mesti diperhatikan dengan segenap hati. "Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah." (Mat 22: 21). Doa kita semoga covid segera berlalu dari bumi ini agar ‘kemerdekaan’ kita kembali lagi. Merdeka!
Tuhan memberkati,
Fr Martinus Situmorang OFMCap
-
Umat ICF Brisbane-Gold Coast yang hatinya baik,
Spring has sprung. Musim dingin tahun ini sudah berlalu, musim semi sedang kita masuki. Bunga-bunga akan bermekaran dan rerumputan akan tumbuh subur menghiasi alam kita dan hati kita akan diselimuti dengan kehangatan cinta kasih Allah terlebih orang-orang yang terkena Covid-19 semakin berkurang. Geliat kehidupan perlahan aktif.
Self-forgiveness (memaafkan diri sendiri) bukan berarti melepaskan diri dari kesalahan juga bukan tanda kelemahan. Memaafkan diri sendiri atau seseorang yang bersalah kepada kita bukan berarti kita memaklumi atau membenarkan suatu perilaku yang buruk.
Memaafkan berarti menerima perilaku dan apa yang telah terjadi serta bersedia melewatinya dan melanjutkan hidup tanpa terpenjara akan peristiwa masa lalu yang tidak bisa diubah. Memaafkan bukan berarti harus kembali ke situasi yang sama tapi karena kamu butuh damai untuk melanjutkan hidup.
Mungkin kalimat berikut bisa membantu kita dalam proses memaafkan. Segemuk-gemuknya ikan pasti ada tulangnya. Sekurus-kurusnya ikan pasti ada dagingnya.
Sebaik-baiknya orang pasti ada buruknya. Seburuk-buruknya orang pasti ada baiknya. Carilah baik dalam buruk orang, itulah karakter. Carilah buruk sendiri dan perbaiki itulah keikhlasan.
Hendaknya kedamaian kita didasarkan pada Sabda Allah sendiri. Allah sumber harapan hidup baru. “Carilah Tuhan maka kamu akan hidup” (Amos 5:6). Seperti tema bulan Kitab suci tahun ini, Tuhan menegur kejahatan manusia tetapi sekaligus memberikan harapan baru melalui para nabi. Tuhan tidak membiarkan umat manusia dalam kegelapan namun Ia membangkitkannya untuk hidup baru.
Saya ingat orang berkata “bila menegur jangan sampai menghina, menasehati jangan sampai menyakiti, mendidik jangan sampai memaki, meminta jangan sampai memaksa, memberi jangan sampai mengungkit.” Untaian kata yang sangat indah di tengah dunia yang makin berkembang dengan segala kesempatannya.
Mari kita lebih rajin membaca Kitab suci dan merenungkannya. Tuhan memberkatimu selalu.
Fr Martinus Situmorang OFMCap
-
Umat ICF Brisbane-Gold Coast yang hatinya baik,
Bulan Oktober adalah Bulan Rosario. Padre Pio dikenal sebagai seorang pendoa. Doanya sangat sederhana, Ia menyukai doa Rosario dan menganjurkan kita untuk berdoa rosario. Ketika ditanya apakah warisan yang ingin ditinggalkannya kepada mereka, jawabnya sederhana, “Berdoalah Rosario.”
Devosi Padre Pio kepada Perawan Maria berakar di dalam kebenaran bahwa Yesus secara khusus menginginkan devosi tersebut. Yesus memilih untuk datang ke dunia lewat Maria. Demikian pula, Yesus memilih supaya kita datang kepada-Nya melalui Maria; karena jiwanya memuliakan Tuhan.
Seperti yang dikatakan Kitab Suci: “Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” (Lukas 1:46-49).
Salah satu burung yang berani mematuk Elang adalah Burung Gagak. Ia berani sekali duduk diatas Elang dan mematuk lehernya. Tetapi elang tidak menanggapi. Dia tidak membalas dan tidak juga berkelahi. Apa yang dilakukan? Elang itu membuka sayapnya dan mulai terbang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi ke atas. Semakin tinggi elang terbang semakin sulit bagi gagak untuk bernafas. Dan akhirnya gagakpun jatuh karena kekurangan oksigen. Dan Elang bebas kembali.
Hal yang sama terjadi dalam hidup kita. Gagak itu melambangkan semua tantangan kesulitan hidup kita. Orang orang yang seharusnya tidak berada dalam hidupmu, segala gangguan opini menjatuhkan, hinaan, fitnah, hal hal yang mengusikmu dan kamu punya pilihan. Melawan dan berkelahi dengan cara mereka atau menggunakan waktu dan tenaga untuk terbang lebih tinggi dan melihat gangguan itu pergi dengan sendirinya.
Jadi berhentilah membuang waktumu dengan si burung gagak. Kesulitan itu hanya akan mengganggumu ketika kamu membiarkannya mengusikmu. Tapi kesulitan itu akan hilang ketika kamu memperbesar kapasitasmu. Salah satu cara memperbesar kapasitas kita ialah dengan tekun berdoa Rosario sepanjang bulan ini.
Tuhan memberkati,
Fr Martinus Situmorang OFMCap
-
Saudara-saudari terkasih umat ICF yang hatinya baik,
Gereja kita mendedikasikan bulan November setiap tahun sebaai bulan jiwa-jiwa. Dimulai dengan Hari Raya semua orang kudus. Mau mengingatkan kita bahwa kita ‘kudus’ karena berasal dari Allah yang kudus dan akan kembali kepada Allah. Karena itu kita mesti berharap seperti Kristus yang bangkit mulia mengalahkan maut.
Hidup di dunia ini hanya sementara. Tujuan akhir perjalanan kita di dunia ini adalah hidup abadi penuh bahagia bersama Allah Sang Pencipta dan Mahakuasa di surga abadi. Namun, untuk mencapai hidup abadi tersebut, kita mesti mempersiapkan diri, terutama dengan menerima kasih karunia Allah yang telah dilimpahkan-Nya.
Ada banyak kasih Allah yang diberikan kepada dunia: kesempatan hidup, rezeki, alam, dan lain sebagainya. Rahmat yang paling besar adalah pengutusan Yesus Sang Putra Allah untuk menebus dunia. Maka, sangat beruntunglah orang yang mengenal dan menerima Kristus, seperti orang Kristen.
Kita bersyukur karena kita menjadi anak-anak Allah dalam Kristus Yesus. Lebih beruntung lagi mereka yang sudah menikmati karya penebusan Kristus, yang sudah sama seperti Kristus dalam kehidupan kekal karena wafat dan kebangkitan Kristus itu, yakni mereka yang telah menikmati hidup bahagia di surga. Mereka itulah para kudus yang telah menikmati hidup kekal. Walaupun sesama hidup di dunia mereka mengalami aneka kesulitan dan perjuangan, namun mereka telah mencapai tujuan akhir dengan mantap, sama seperti Kristus. Kita juga kiranya berharap kelak mencapai tujuan yang sama dengan penuh sukacita. Kiranya kita menikmati hidup abadi bersama Kristus karena kebangkitanNya. Untuk itu, mari kita bertekun bersama Kristus dalam hidup menerimaNya, merenungkan dan mengamalkan sabdaNya dengan melakukan kebaikan dalam hidup kita, sama seperti dihidupi oleh para kudus.
Kekudusan itu kita mulai dalam keluarga kita masing-masing. Sejatinya keselamatan adalah anugerah, agar rahmat efektif menyelamatkan harus diterima dan diperjuangkan manusia secara tekun dan setia.
Kesetiaan itu tidak selalu mudah ditengah godaan dewasa ini seperti banyak dialami pasangan suami istri dalam menjalani hubungan mereka, walaupun telah berjanji setia sekata; berkomitmen untuk saling mengampuni dan mengasihi, toh kerap juga ada rasa jengkel dan kurang mengasihi. Rumput tetangga kerap terlihat lebih hijau.
Keluarga adalah gereja mini yang paling inti. Jika keluarga kuat maka Gereja kita juga kokoh. Karena itulah maka komunitas kita mengangkat tema “keluarga” sebagai permenungan kita pada retret tahun ini. Kita mau saling menguatkan satu sama lain.
Saya mau mengundangmu agar ikut retreat di akhir bulan ini. Kesempatan ini sangat istimewa. Tinggalkan sejeka kerepotan pekerjaan harianmu agar bisa bersama Tuhan. Justru karena kamu sibuklah dibutuhkan sejenak membangun relasi dengan Tuhan dalam keheningan batin sehingga kamu keluar dari kejenuhan rutinitas harian. Ini tidak mudah, mesti dialokasikan. Bukan memakai waktu yang tersisa namun dengan sengaja menyisihkan waktumu yang begitu berharga itu.
Fr Martinus Situmorang OFMCap
-
2023
-
Umat ICF yang hatinya baik,
Pada edisi pertama warta tahun 2023 kali ini kita mensyukuri segala rahmat yang kita terima dari Tuhan melalui sesama dan seluruh alam ciptaan. Bersyukur atas kehidupan dan rejeki yang berlimpah sepanjang tahun yang sudah berlalu. What’s done is done, what’s gone is gone. One of the best life’s lessons is learning how to let go and move on. It’s Ok to look back at your memory but never let the past stop you from moving forward.
Tanggal 22 Januari 2023 Pimpinan Kapusin Australia mengumumkan dihadapan kita semua bahwa Kapusin tidak memperpanjang Kontrak Pastoralnya dengan Keuskupan Agung Brisbane dalam pelayanan pastoralnya dengan Paroki St. Mary South Brisbane dan St. Ita Dutton Park yang berakhir Januari 2022. Setelah 10 tahun melayani umat di kedua paroki ini Pimpinan Kapusin Australia melalui Propinsial P. Gerard O’Dempsey, OFMCap tidak menandatangani perjanjian untuk memperbaharui pelayanan sehubungan dengan keterbatasan tenaga pastoral yang imam karena umur yang sudah menua dan jumlah panggilan yang menurun yang juga dialami semua negara dan bangsa. Dengan demikian reksa pastoral kedua Paroki yakni St. Mary South Brisbane dan St. Ita Dutton Park akan kembali ke Keuskupan setelah January 2024. Kapusin akan tetap melayani kedua paroki ini sampai Januari 2024.
Apakah ada pengaruhnya dengan pelayanan dengan umat ICF? Secara langsung tidak ada karena yang tidak diperbaharui kontraknya adalah dengan Paroki St. Mary South Brisbane dengan St. Ita Dutton Park. Namun kita perlu tahu secara jernih karena Uskup Agung Keuskupan Agung Brisbane mempercayakan Pelayanan untuk Umat ICF kepada Ordo Kapusin dan kita memakai gereja St. Ita untuk pelayanan dan Sakramen. Apakah ICF masih punya Chaplain? Ya, Pastor Martinus Situmorang, OFMCap akan tetap melayani sampai pengganti siap untuk berkarya melayani reksa pastoral ICF Keuskupan Agung Brisbane. Dimana nanti Chaplain ICF akan Tinggal? Pastor akan tinggal di Wynnum karena disana ada komunitas kapusin yang melayani umat Paroki Guardian Angels Wynnum, Keuskupan Agung Brisbane seperti dulu dimana P. Leo Sipahutar, P. Paskalis Pasaribu, P. Maxi Kimsong, dan P. Nestor Sinaga. Karena sampai sekarang belum ada rencana mengubah kontrak antara Ordo Kapusin dengan Keuskupan sehubungan dengan pelayanan umat ICF Brisbane-Gold Coast.
Apakah Umat ICF akan pindah Gereja? Sampai Januari 2024 tidak akan pindah gereja untuk merayakan ekaristi. Namun setelah itu kita mesti berdiskusi ulang dengan pastor baru yang dipercayakan oleh Uskup Agung Brisbane melayani umat Paroki St. Ita Dutton Park. Karena kita memakai gereja St. Ita. Dalam sejarahnya juga kita sudah berpindah gereja beberapa kali sedangkan pastornya tetap tinggal di Wynnum Central.
Chaplaincy ICF adalah milik kita semua umat Katolik Indonesia yang berada di Keuskupan Agung Brisbane dan structural dan pastoral berada dibawah Keuskupan Agung Brisbane maka kita mengikuti reksa pastoral yang berlaku di Keuskupan Agung Brisbane. ICF itu tidak berdiri sendiri dan tidak lepas dari Keuskupan Agung Brisbane. Bedanya dengan Paroki bahwa kita boleh memakai Bahasa dari mana kita berasal dan umat secara financial bertanggungjawab penuh menghidupi pastornya. ICF itu tidak independen terpisah dari Keuskupan. Karena Katolik itu satu, kudus dan apostolic.
Jika ada uang lakukanlah hal yang baik. Jika tidak ada uang jadilah seorang yang baik. Ular tidak tahu dirinya berbisa. Kerap manusia tidak tahu jika dirinya melakukan kesalahan. Kebaikanmu kepada orang lain bagaikan permen karet setelah habis manisnya akan tercampak kemudian. Sedangkan kesalahanmu seperti luka dalam tubuhmu dan akan meninggalkan tanda seumur hidupmu. Inilah sifat kehidupan manusia pada umumnya yang sudah dirusak oleh dosa namun kita diangkat dan ditebus oleh pengorbanan Yesus di salib.Tuhan memberkati,
Fr Martinus Situmorang OFMCap -
Umat ICF yang hatinya baik,
Kesejatian cinta dilihat dari banyaknya pengorbanan yang kita berikan untuk mereka yang kita cintai. Hari ini kita mulai dengan Rabu Abu. Dahi atau Kepala kita ditandai dengan Abu. Abu menyimbolkan penyesalan, ketidakabadian, tobat dan asal usul kita. Kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. (tanah wakaf atau tanah sengketa).
Gereja kita mengajarkan selama masa prapaskah ini kita isi dengan doa, puasa dan sedekah. Dengan berdoa kita menjalin hubungan yang akrab dan personal dengan Tuhan. Memberikan tempat pertama dan utama kepada Tuhan. Doa memberi kita kekuatan untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan yang ada disekitar kita. Dalam doa kita mencari kehendak Tuhan dan kebenaran-Nya. Dalam Doa Bapa Kami (Matius 6: 7-15) Yesus mengajarkan bahwa doa dibenarkan bukan karena panjangnya kata-kata dan disaksikan oleh banyak orang. Berdoa itu bukan sebagai show off. Doa dipanjatkan kepada Tuhan dengan rendah hati dan penuh iman. Ada pengakuan akan Allah yang Mahakuasa, Mahakudus dan meraja diatas bumi dan segala isinya.
Dengan berpuasa kita mengontrol diri sendiri, memurnikan hati dan pikiran, mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat demi ambil bagian dengan penderitaan Kristus dan solider dengan mereka yang lapar dan membutuhkan. Dengan berpuasa kita juga membebaskan diri dari ketergantungan jasmani. Mengurangi kesenangan diri sendiri.
Sedekah atau amal kita mengurangi beban orang lain yang sungguh membutuhkan dan memberi mereka kesempatan hidup dan berkembang. Tindakan belas kasih kepada mereka yang kekurangan hendaknya menjadi bagian integral dari rasa tobat kita demi Kerajaan Allah.
Puasa tanpa doa itu jaga body, puasa tanpa amal itu ngirit. Doa, puasa dana mal itu berjalan bersama. Dalam ketiganya, ketika kita melakukannya bukan supaya kita dihargai, bukan supaya kita dipuji namun agak Tuhan semakin dimuliakan. Kita lakukan dengan rendah hati dan sukarela (volunteer). Karena itu tidak perlu ada polisi untuk mengawasi apakah kita puasa, berapa kali kita berdoa dan berapa banyak APP kita. Kita lakukan dengan sukacita dan gembira. “Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”. Roma 8:18.
Tuhan memberkati,
Fr Martinus Situmorang OFMCap -
Saudara-saudari terkasih umat ICF yang hatinya baik,
Kali ini saya dan kita semua bisa belajar dari penghianatan Yudas atas Yesus (Mat 26:14-25). Kisah pengkhianatan Yudas atas Yesus bagiku sangat menarik. "Kok menarik? Dimana letaknya? Namanya suatu pengkhianatan pastilah menjengkelkan", mungkin demikian pikir kita.
Bagiku tetap menarik; menarik sebagai sebuah pembelajaran, agar tidak terulang lagi. Namun, walau kukatakan demikian, toh terulang juga. Di situlah letaknya. Yudas sudah berpikir untuk memanfaatkan kesempatan yakni kebencian imam-imam kepala dan orang-orang Farisi untuk menjual Yesus. Dia pergi meminta tawaran harga penyerahan Yesus.
Namun, ketika Yesus bernubuat tentang penyerahan atau pengkhianatan atas diri-Nya, Yudas seolah-olah tidak tahu. Itu tampak dari pertanyaanNya kepada Yesus, sesudah Petrus, "Bukan aku ya Tuhan?" Mungkinkah Yudas benar tidak tahu atau tidak sadar atau lupa bahwa ia sedang mengkhianati Yesus? Atau mungkin pura-pura lupa? Atau, ada sesuatu yang disembunyikan?
Rasanya Yudas tidak mungkin lupa bahwa ia telah dan sedang menjual Yesus. Akan tetapi, dia berpura-pura lupa untuk mengelabui atau menutupi dosa kerakusan dan ketamakannya. Demikianlah bila nurani orang sudah tertutup dan kelam: jalan apapun diusahakan untuk menyembunyikan dosanya seraya tetap mencari cara untuk memenuhi hasratnya.
Kita pun mungkin pernah seperti Yudas ini. Karena ketamakan akan uang dan harta dunia, kita sulit meninggalkan perbuatan dosa, bahkan hingga menggadaikan sesama. Semoga kita belajar dari peristiwa pengkhianatan Yudas, hingga bertobat dan tidak melakukannya lagi.z
Kisah penghianatan Judas turut serta dalam Kisah Sengsara Tuhan menuju kebangkitan mulia. Ia merasakan kisah manusia dan menjadi sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa. Kristus bangkit Alleluya. Selamat Paskah! Tuhan memberkati.Pace e bene.
Fr Martinus Situmorang OFMCap -
Umat ICF yang hatinya baik,
Bulan Mei adalah bulan Maria. Gereja kita mendedikasikan selama bulan Mei kepada Maria agar kita meneladan hidupnya yang saleh, rendah hati dan peduli terhadap sesama yang membutuhkan. Ketika Pesta perkawinan di Kana kehabisan anggur, Maria berperan aktif meminta kepada Yesus agar Dia membantu mereka.
Kita semua tahu bahwa Yesus sungguh mengubah air menjadi anggur. Maka ketika kita dalam kesusahan ingatlah bahwa kita mempunyai Ibu bersama yakni Maria, Bunda Penolong Abadi. Kita mempunyai banyak sebutan untuk Maria ibu Yesus. Sebutlah beberapa: Maria yang tetap Perawan, Maria Bunda Kita, Maria Bintang Laut seperti nama Kapel kita di Marian Valley dan masih banyak lagi sebutan yang luhur dan mulia.
Pada Sinode Pertama di Sydney tahun 1844 para Uskup Australia memilih sebutan “Our Lady Help of Christians”, Maria Bunda Penolong Umat Kristen sebagai pelindung tanah Australia. Para Uskup berharap bersama doa Ibu Maria kita bisa menang melawan dosa-dosa yang menjauhkan orang beriman dari kasih Tuhan. Kedua orang Kristen sebagai komunitas bisa melawan anti-Kristen. Dimana waktu itu kekatolikan sungguh mengalami persekusi. Setiap tanggal 24 Mei kita merayakan Our Lady Help of Christians.
Berdasarkan sensus terakhir (2021) ada 43.9% dari penduduk Australia mengaku masih beragama dan 20%-nya adalah Katolik. Persentase terbesar yang masih mengaku beragama. “Sesungguhnya Aku ini hamba Tuhan; Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1 : 38) adalah merupakan tanggapan Maria dengan rendah hati mentaati kehendak atau peritah Allah. Orang yang rendah hati dan taat sungguh menggembirakan banyak orang atau membuat suka cita banyak orang. Sebagai orang beriman marilah kita senantiasa hidup dan bertindak dengan taat dan rendah hati kepada kehendak Tuhan.Tuhan memberkati.
Fr Martinus Situmorang OFMCap -
Umat ICF yang hatinya baik,
Hari Raya Pentakosta menutup masa Paskah tahun 2023 ini. Roh Kudus yakni Roh Tuhan kita sendiri menyertai kita sampai akhir zaman. Setelah Pentakosta kita merayakan Tritunggal Mahakudus dan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.
Yesus bersabda “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan Dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman" (Yohanes 6: 51-58).
Yohanes merenungkan ajaran Kristus dalam cahaya Roh dan dengan memandang kehidupan Gereja. Seluruh kehidupan Kristus adalah suatu anugerah. Ia memberanikan diri dalam pewartaan iman akan Kerajaan Allah. Ia memberikan hidup-Nya dikayu salib dan dikenangkan dalam Ekaristi. Orang yang menerima Tubuh Kristus dengan iman penuh, mengadakan hubungan yang seerat-eratnya dengan Tuhan. Dialahkehidupan. Dialah yang memberikan hidup kekal yang merupakan jaminan kebangkitan.
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, juga dikenal sebagai Corpus Christi, menandai peringatan kehadiran nyata Tuhan dalam Ekaristi. Corpus Christi memperingati Tuhan Yesus yang benar-benar hadir dalam Sakramen Ekaristi Kudus, yang kita terima dan santap dalam setiap perayaan Misa Kudus. Sebagai orang Katolik tentunya kita semua sangat percaya bahwa Ekaristi yang kita terima dalam Misa Kudus tidak lain adalah Tubuh dan Darah Kristus dan berharga mulia dari Tuhan kita sendiri.
Meskipun penampakan roti dan anggur tetap ada, tetapi misteri iman kita dalam apa yang dikenal sebagai Transubstansiasi berarti bahwa roti dan anggur itu sebenarnya, oleh kuasa Allah, melalui para imam, diberdayakan oleh Roh Kudus, dan otoritas. diberikan kepada mereka oleh Tuhan melalui Gereja-Nya, menjadi esensi, realitas dan materi dari Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Kita memiliki iman bahwa ini adalah kebenaran, dan apa yang benar-benar kami makan dan minum adalah Tuhan sendiri, yang Tubuh-Nya telah diremukkan bagi kita, dan Darah-Nya telah dicurahkan dan dicurahkan kepada kita, untuk membasuh kita dan membawa kita ke keselamatan dan hidup yang kekal.Tuhan memberkatimu selalu.
Fr Martinus Situmorang OFMCap -
Umat ICF yang hatinya baik,
"Hal Kerajaan surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu...” (Matius 13:44-46).
Pada perumpamaan ini Yesus mau menegaskan bahwa Kerajaan Allah itu sangat bernilai dan indah. Setiap orang yang mau memperolehnya mesti berjuang dengan segala pengorbanannya. Gereja berjuang mengajarkan keadilan melalu pendidikan dan ajaran sosialnya.
Gereja mengajak kita untuk ikut serta membangun kerajaan Allah dengan berlaku adil sejak dari pikiran. Berbuat cinta kasih kepada siapapun terlebih mereka yang putus asa, miskin dan terpinggirkan. Kerajaan Allah itu bukanlah sesuatu yang jauh, diluar dunia ini namun berada bersama kita, kini dan disini. Hadir bersama kita.
Kerajaan Allah berarti Allah yang menjadi rajanya. Kita menyesuaikan diri dengan rencana Allah. Dengan kita saling menolong, tidak berbicara bohong, dan saling mendahului dalam member hormat. Kita menghormati seseorang bukan karena dia layak dihormati tapi karena kita sendiri adalah orang terhormat. Menang melawan musuh namun mengalah berhadapan dengan kawan dan teman.
Cinta tak perlu pengorbanan. Pada saat kamu merasa berkorban berati pada saat itu cintamu mulai pudar. Ketika cinta makin berkurang maka kesalahan makin terlihat. Karena itu cintailah dulu selaniutnya akan lebih mudah, Seperti kata Ibu Teresa dari Calcutta: “Cinta dan kasih sayang dimulai dari rumah, dan cinta bukanlah seberapa banyak yang kita perbuat. melainkan seberapa besar cinta yang kita berikan dalam perbuatan itu." Perbuatan baik itu bisa berupa pelayanan.
Melayani bukanlah sejauh saya ada waktu namun dengan istimewa saya alokasikan waktuku yang begitu berharga untuk Tuhan dan sesama. Ini tidak mudah karena itulah sulit dan berharga. Dengan demikian kita menampakkan wajah Allah yang meraja dengan damai.Tuhan memberkati,
Fr Martinus Situmorang OFMCap -
Saudara-saudari terkasih umat ICF yang hatinya baik,
Kisah panggilan Petrus dari penjala ikan ke penjala manusia dituturkan dalam Lukas 5:1-11. Berdasarkan latar belakang pengalaman Petrus, saya sangat mengerti alasan Petrus sedikit keberatan ketika Yesus memintanya untuk bertolak lebih dalam dan melempar jala untuk menangkap ikan padahal mereka sudah sepanjang malam bekerja, "Guru, telah sepanjang malam kami terus bekerja tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga".
Petrus seorang nelayan. Pastilah dia tahu membaca situasi kapan banyak ikan atau tidak, di mana bisa menangkap ikan besar atau kecil, kepiting, teripang atau sekedar udang. Dalam hati kecil Petrus mungkin terbersit, "Kok Yesus anak Tukang Kayu mengajari nelayan menangkap ikan?" Karena Yesuslah menyuruhnya, dia lakukan juga. Artinya Petrus sungguh percaya bahwa Yesus memiliki kuasa dan pengetahuan yang jauh mengatasi pengetahuan dan kecakapan Petrus. Demikian memang terjadi. Sehingga Petrus pun berhasil menangkap banyak ikan besar, sampai jala mereka mulai koyak. Peristiwa itu membuat Petrus semakin hormat dan percaya pada-Nya, sekaligus merasa tidak layak berdiri di hadapan Yesus, sehingga ia berkata, "Tuhan pergilah dari sini, sebab aku orang berdosa".
Bersama Yesus kita akan sukses dalam menggapai cita-cita dan perjuangan bersama. Mungkin, suatu waktu kita merasa gagal, entah dalam pekerjaan, kesehatan, membangun idealisme yang baik, membangun semangat pertobatan dan komitmen. Akan tetapi, bila kita membuka hati, kita pasti berhasil. Kita harus belajar dari Petrus, yakni dengan rendah hati dan terbuka menanggapi suara Tuhan. Sekalipun dia seorang yang lebih ahli dari segi ilmu kenelayanan di Danau Genesaret, dia tetap terbuka mendengarkan suara Tuhan sehingga hasil melimpah. Kita pun harus belajar mendengar suara setiap insan, sekalipun mungkin kita pikir tidak begitu cemerlang karena keterbatasan latar belakangnya, sebab mungkin Tuhan memberikannya sebagai petunjuk untuk kita.
Kesombongan hanya membawa kita pada kehinaan diri dan kejatuhan yang mendalam. Tetaplah mawas diri dan rendah hati karena diatas langit masih ada langit. Sombong karena materi mudah terlihat namun sombong karena pengetahuan apalagi sombong karena kebaikan sulit diidentikasi seperti merasa lebih bermoral, lebih pemurah, lebih banyak jasanya, lebih banyak kontribusi, lebih tulus dan merasa lebih dari yang lain. Tidak ada yang lebih membebaskan selain tulus dan move on.
Semakin berumur apalagi setelah diatas 65 tahun dengan tuntutan kerja makin berkurang (pension) kita sering bernostalgia seperti berikut ini: “Saya dulu adalah ..., Saya dulu pernah ...,” anak muda tidak suka itu. Seberjasa apapun kamu merasa dirimu tidak perlu kamu ceritakan kecuali diminta untuk menghindarkanmu dari kekecewaan.Tuhan memberkati,
Fr Martinus Situmorang OFMCap -
Saudara-Saudari umat ICF yang hatinya baik,
Bunda Gereja Katolik yang satu dan apostolik merayakan Hari Raya St. Fransiskus (Keluarga Fransiskan) setiap tanggal 4 Oktober setiap tahun. Santo Fransiskus dikenal sebagai pembawa damai, pelindung lingkungan hidup dan Paus kita sekarang mengambil namanya. Pada zaman St. Fransiskus Assisi (1182-1226), Gereja mengalami kemerosotan dalam banyak hal, termasuk moral. Pada masa itu ada banyak usaha banyak orang untuk membarui Gereja, termasuk dengan cara yang keras dan kasar seperti bidaah dan demonstrasi. Berkat bisikan Roh Allah Fransiskus menyadari situasi buruk Gereja pada zamannya, dan terdorong untuk memperbaruinya. Di Gereja San Damiano, dia mendengar suara yang berseru, "Fransiskus, Perbaikilah Gereja-Ku".
Mulanya St. Fransiskus tidak memahami sepenuhnya arti suara itu, maka dia mulai memperbaiki fisik gedung gereja San Damiano. Akan tetapi secara perlahan dia mengerti. Dia pun mulai membarui gereja dengan pertobatannya. Dia meninggalkan hidup hedonistik, materialistic yang jauh dari Tuhan menjadi dekat dengan Tuhan. Dia pun makin bersaudara dengan semua orang. Dia tidak mencela perilaku buruk orang lain pada zamannya, termasuk banyak imam, tetapi menghormati mereka sepenuhnya. Fransiskus menghidupi dan menghadirkan semangat pembaruan dengan kelemahlembutan. Dalam gerakan pertobatannya ia diikuti banyak orang. Pesan yang sama diberikan kepada mereka. Fransiskus adalah teladan pembaharu dakam semangat kelemahlembutan.
Semangat tersebut diambil Fransiskus dari Yesus Kristus, Sang Guru dan Penyelamat kita. Sebagaimana tampak dalam Injil Matius 11:25-30, "Marilah belajar dari padaKu, ... sebab Aku lemah lembut dan rendah hati". Kini kita juga diajak untuk terus menghidupi dan menghidupkan semangat pembaharuan dengan lembut dan penuh kerendahan hati seturut semangat Yesus dan teladan St. Fransiskus, baik dalam bernegara, bermasyarakat dan bergereja terutama dikomunitas kita.
Menerima Yesus merupakan jalan keselamatan terindah, terbaik dan teragung dari Tuhan. Dia telah menyatakan kasih dan keselamatan Tuhan dengan rela turun dari surga menjadi manusia, menyatakan kasih dan kemurahan Allah dengan membangun kerajaan penuh kasih dan damai serta keadilan, menyatakan dan memberikan teladan kasih yang menyelamatkan lewat kurban salib. Maka, kalau mau selamat, mari kita menerima-Nya sepenuhnya. Mari kita juga menghidupi jalan-Nya dalam hidup harian kita, agar semakin banyak orang datang dan mendekat pada Yesus, serta menerima-Nya sebagai jalan keselamatan. Tuhan memberkati.Pace e bene,
Fr Martinus Situmorang OFMCap