Arsip Warta ICF: Sapaan Pastor 2023

  • Umat ICF yang hatinya baik,

    Pada edisi pertama warta tahun 2023 kali ini kita mensyukuri segala rahmat yang kita terima dari Tuhan melalui sesama dan seluruh alam ciptaan. Bersyukur atas kehidupan dan rejeki yang berlimpah sepanjang tahun yang sudah berlalu. What’s done is done, what’s gone is gone. One of the best life’s lessons is learning how to let go and move on. It’s Ok to look back at your memory but never let the past stop you from moving forward.

    Tanggal 22 Januari 2023 Pimpinan Kapusin Australia mengumumkan dihadapan kita semua bahwa Kapusin tidak memperpanjang Kontrak Pastoralnya dengan Keuskupan Agung Brisbane dalam pelayanan pastoralnya dengan Paroki St. Mary South Brisbane dan St. Ita Dutton Park yang berakhir Januari 2022. Setelah 10 tahun melayani umat di kedua paroki ini Pimpinan Kapusin Australia melalui Propinsial P. Gerard O’Dempsey, OFMCap tidak menandatangani perjanjian untuk memperbaharui pelayanan sehubungan dengan keterbatasan tenaga pastoral yang imam karena umur yang sudah menua dan jumlah panggilan yang menurun yang juga dialami semua negara dan bangsa. Dengan demikian reksa pastoral kedua Paroki yakni St. Mary South Brisbane dan St. Ita Dutton Park akan kembali ke Keuskupan setelah January 2024. Kapusin akan tetap melayani kedua paroki ini sampai Januari 2024.

    Apakah ada pengaruhnya dengan pelayanan dengan umat ICF? Secara langsung tidak ada karena yang tidak diperbaharui kontraknya adalah dengan Paroki St. Mary South Brisbane dengan St. Ita Dutton Park. Namun kita perlu tahu secara jernih karena Uskup Agung Keuskupan Agung Brisbane mempercayakan Pelayanan untuk Umat ICF kepada Ordo Kapusin dan kita memakai gereja St. Ita untuk pelayanan dan Sakramen. Apakah ICF masih punya Chaplain? Ya, Pastor Martinus Situmorang, OFMCap akan tetap melayani sampai pengganti siap untuk berkarya melayani reksa pastoral ICF Keuskupan Agung Brisbane. Dimana nanti Chaplain ICF akan Tinggal? Pastor akan tinggal di Wynnum karena disana ada komunitas kapusin yang melayani umat Paroki Guardian Angels Wynnum, Keuskupan Agung Brisbane seperti dulu dimana P. Leo Sipahutar, P. Paskalis Pasaribu, P. Maxi Kimsong, dan P. Nestor Sinaga. Karena sampai sekarang belum ada rencana mengubah kontrak antara Ordo Kapusin dengan Keuskupan sehubungan dengan pelayanan umat ICF Brisbane-Gold Coast.

    Apakah Umat ICF akan pindah Gereja? Sampai Januari 2024 tidak akan pindah gereja untuk merayakan ekaristi. Namun setelah itu kita mesti berdiskusi ulang dengan pastor baru yang dipercayakan oleh Uskup Agung Brisbane melayani umat Paroki St. Ita Dutton Park. Karena kita memakai gereja St. Ita. Dalam sejarahnya juga kita sudah berpindah gereja beberapa kali sedangkan pastornya tetap tinggal di Wynnum Central.

    Chaplaincy ICF adalah milik kita semua umat Katolik Indonesia yang berada di Keuskupan Agung Brisbane dan structural dan pastoral berada dibawah Keuskupan Agung Brisbane maka kita mengikuti reksa pastoral yang berlaku di Keuskupan Agung Brisbane. ICF itu tidak berdiri sendiri dan tidak lepas dari Keuskupan Agung Brisbane. Bedanya dengan Paroki bahwa kita boleh memakai Bahasa dari mana kita berasal dan umat secara financial bertanggungjawab penuh menghidupi pastornya. ICF itu tidak independen terpisah dari Keuskupan. Karena Katolik itu satu, kudus dan apostolic.

    Jika ada uang lakukanlah hal yang baik. Jika tidak ada uang jadilah seorang yang baik. Ular tidak tahu dirinya berbisa. Kerap manusia tidak tahu jika dirinya melakukan kesalahan. Kebaikanmu kepada orang lain bagaikan permen karet setelah habis manisnya akan tercampak kemudian. Sedangkan kesalahanmu seperti luka dalam tubuhmu dan akan meninggalkan tanda seumur hidupmu. Inilah sifat kehidupan manusia pada umumnya yang sudah dirusak oleh dosa namun kita diangkat dan ditebus oleh pengorbanan Yesus di salib.

    Tuhan memberkati,
    Fr Martinus Situmorang OFMCap

  • Umat ICF yang hatinya baik,

    Kesejatian cinta dilihat dari banyaknya pengorbanan yang kita berikan untuk mereka yang kita cintai. Hari ini kita mulai dengan Rabu Abu. Dahi atau Kepala kita ditandai dengan Abu. Abu menyimbolkan penyesalan, ketidakabadian, tobat dan asal usul kita. Kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. (tanah wakaf atau tanah sengketa).

    Gereja kita mengajarkan selama masa prapaskah ini kita isi dengan doa, puasa dan sedekah. Dengan berdoa kita menjalin hubungan yang akrab dan personal dengan Tuhan. Memberikan tempat pertama dan utama kepada Tuhan. Doa memberi kita kekuatan untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan yang ada disekitar kita. Dalam doa kita mencari kehendak Tuhan dan kebenaran-Nya. Dalam Doa Bapa Kami (Matius 6: 7-15) Yesus mengajarkan bahwa doa dibenarkan bukan karena panjangnya kata-kata dan disaksikan oleh banyak orang. Berdoa itu bukan sebagai show off. Doa dipanjatkan kepada Tuhan dengan rendah hati dan penuh iman. Ada pengakuan akan Allah yang Mahakuasa, Mahakudus dan meraja diatas bumi dan segala isinya.

    Dengan berpuasa kita mengontrol diri sendiri, memurnikan hati dan pikiran, mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat demi ambil bagian dengan penderitaan Kristus dan solider dengan mereka yang lapar dan membutuhkan. Dengan berpuasa kita juga membebaskan diri dari ketergantungan jasmani. Mengurangi kesenangan diri sendiri.

    Sedekah atau amal kita mengurangi beban orang lain yang sungguh membutuhkan dan memberi mereka kesempatan hidup dan berkembang. Tindakan belas kasih kepada mereka yang kekurangan hendaknya menjadi bagian integral dari rasa tobat kita demi Kerajaan Allah.

    Puasa tanpa doa itu jaga body, puasa tanpa amal itu ngirit. Doa, puasa dana mal itu berjalan bersama. Dalam ketiganya, ketika kita melakukannya bukan supaya kita dihargai, bukan supaya kita dipuji namun agak Tuhan semakin dimuliakan. Kita lakukan dengan rendah hati dan sukarela (volunteer). Karena itu tidak perlu ada polisi untuk mengawasi apakah kita puasa, berapa kali kita berdoa dan berapa banyak APP kita. Kita lakukan dengan sukacita dan gembira. “Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”. Roma 8:18.

    Tuhan memberkati,
    Fr Martinus Situmorang OFMCap

  • Saudara-saudari terkasih umat ICF yang hatinya baik,

    Kali ini saya dan kita semua bisa belajar dari penghianatan Yudas atas Yesus (Mat 26:14-25). Kisah pengkhianatan Yudas atas Yesus bagiku sangat menarik. "Kok menarik? Dimana letaknya? Namanya suatu pengkhianatan pastilah menjengkelkan", mungkin demikian pikir kita.

    Bagiku tetap menarik; menarik sebagai sebuah pembelajaran, agar tidak terulang lagi. Namun, walau kukatakan demikian, toh terulang juga. Di situlah letaknya. Yudas sudah berpikir untuk memanfaatkan kesempatan yakni kebencian imam-imam kepala dan orang-orang Farisi untuk menjual Yesus. Dia pergi meminta tawaran harga penyerahan Yesus.

    Namun, ketika Yesus bernubuat tentang penyerahan atau pengkhianatan atas diri-Nya, Yudas seolah-olah tidak tahu. Itu tampak dari pertanyaanNya kepada Yesus, sesudah Petrus, "Bukan aku ya Tuhan?" Mungkinkah Yudas benar tidak tahu atau tidak sadar atau lupa bahwa ia sedang mengkhianati Yesus? Atau mungkin pura-pura lupa? Atau, ada sesuatu yang disembunyikan?

    Rasanya Yudas tidak mungkin lupa bahwa ia telah dan sedang menjual Yesus. Akan tetapi, dia berpura-pura lupa untuk mengelabui atau menutupi dosa kerakusan dan ketamakannya. Demikianlah bila nurani orang sudah tertutup dan kelam: jalan apapun diusahakan untuk menyembunyikan dosanya seraya tetap mencari cara untuk memenuhi hasratnya.

    Kita pun mungkin pernah seperti Yudas ini. Karena ketamakan akan uang dan harta dunia, kita sulit meninggalkan perbuatan dosa, bahkan hingga menggadaikan sesama. Semoga kita belajar dari peristiwa pengkhianatan Yudas, hingga bertobat dan tidak melakukannya lagi.z

    Kisah penghianatan Judas turut serta dalam Kisah Sengsara Tuhan menuju kebangkitan mulia. Ia merasakan kisah manusia dan menjadi sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa. Kristus bangkit Alleluya. Selamat Paskah! Tuhan memberkati.

    Pace e bene.
    Fr Martinus Situmorang OFMCap

  • Umat ICF yang hatinya baik,

    Bulan Mei adalah bulan Maria. Gereja kita mendedikasikan selama bulan Mei kepada Maria agar kita meneladan hidupnya yang saleh, rendah hati dan peduli terhadap sesama yang membutuhkan. Ketika Pesta perkawinan di Kana kehabisan anggur, Maria berperan aktif meminta kepada Yesus agar Dia membantu mereka.

    Kita semua tahu bahwa Yesus sungguh mengubah air menjadi anggur. Maka ketika kita dalam kesusahan ingatlah bahwa kita mempunyai Ibu bersama yakni Maria, Bunda Penolong Abadi. Kita mempunyai banyak sebutan untuk Maria ibu Yesus. Sebutlah beberapa: Maria yang tetap Perawan, Maria Bunda Kita, Maria Bintang Laut seperti nama Kapel kita di Marian Valley dan masih banyak lagi sebutan yang luhur dan mulia.

    Pada Sinode Pertama di Sydney tahun 1844 para Uskup Australia memilih sebutan “Our Lady Help of Christians”, Maria Bunda Penolong Umat Kristen sebagai pelindung tanah Australia. Para Uskup berharap bersama doa Ibu Maria kita bisa menang melawan dosa-dosa yang menjauhkan orang beriman dari kasih Tuhan. Kedua orang Kristen sebagai komunitas bisa melawan anti-Kristen. Dimana waktu itu kekatolikan sungguh mengalami persekusi. Setiap tanggal 24 Mei kita merayakan Our Lady Help of Christians.

    Berdasarkan sensus terakhir (2021) ada 43.9% dari penduduk Australia mengaku masih beragama dan 20%-nya adalah Katolik. Persentase terbesar yang masih mengaku beragama. “Sesungguhnya Aku ini hamba Tuhan; Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1 : 38) adalah merupakan tanggapan Maria dengan rendah hati mentaati kehendak atau peritah Allah. Orang yang rendah hati dan taat sungguh menggembirakan banyak orang atau membuat suka cita banyak orang. Sebagai orang beriman marilah kita senantiasa hidup dan bertindak dengan taat dan rendah hati kepada kehendak Tuhan.

    Tuhan memberkati.
    Fr Martinus Situmorang OFMCap

  • Umat ICF yang hatinya baik,

    Hari Raya Pentakosta menutup masa Paskah tahun 2023 ini. Roh Kudus yakni Roh Tuhan kita sendiri menyertai kita sampai akhir zaman. Setelah Pentakosta kita merayakan Tritunggal Mahakudus dan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

    Yesus bersabda “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan Dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman" (Yohanes 6: 51-58).

    Yohanes merenungkan ajaran Kristus dalam cahaya Roh dan dengan memandang kehidupan Gereja. Seluruh kehidupan Kristus adalah suatu anugerah. Ia memberanikan diri dalam pewartaan iman akan Kerajaan Allah. Ia memberikan hidup-Nya dikayu salib dan dikenangkan dalam Ekaristi. Orang yang menerima Tubuh Kristus dengan iman penuh, mengadakan hubungan yang seerat-eratnya dengan Tuhan. Dialahkehidupan. Dialah yang memberikan hidup kekal yang merupakan jaminan kebangkitan.

    Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, juga dikenal sebagai Corpus Christi, menandai peringatan kehadiran nyata Tuhan dalam Ekaristi. Corpus Christi memperingati Tuhan Yesus yang benar-benar hadir dalam Sakramen Ekaristi Kudus, yang kita terima dan santap dalam setiap perayaan Misa Kudus. Sebagai orang Katolik tentunya kita semua sangat percaya bahwa Ekaristi yang kita terima dalam Misa Kudus tidak lain adalah Tubuh dan Darah Kristus dan berharga mulia dari Tuhan kita sendiri.

    Meskipun penampakan roti dan anggur tetap ada, tetapi misteri iman kita dalam apa yang dikenal sebagai Transubstansiasi berarti bahwa roti dan anggur itu sebenarnya, oleh kuasa Allah, melalui para imam, diberdayakan oleh Roh Kudus, dan otoritas. diberikan kepada mereka oleh Tuhan melalui Gereja-Nya, menjadi esensi, realitas dan materi dari Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Kita memiliki iman bahwa ini adalah kebenaran, dan apa yang benar-benar kami makan dan minum adalah Tuhan sendiri, yang Tubuh-Nya telah diremukkan bagi kita, dan Darah-Nya telah dicurahkan dan dicurahkan kepada kita, untuk membasuh kita dan membawa kita ke keselamatan dan hidup yang kekal.

    Tuhan memberkatimu selalu.
    Fr Martinus Situmorang OFMCap

  • Umat ICF yang hatinya baik,

    "Hal Kerajaan surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu...” (Matius 13:44-46).

    Pada perumpamaan ini Yesus mau menegaskan bahwa Kerajaan Allah itu sangat bernilai dan indah. Setiap orang yang mau memperolehnya mesti berjuang dengan segala pengorbanannya. Gereja berjuang mengajarkan keadilan melalu pendidikan dan ajaran sosialnya.

    Gereja mengajak kita untuk ikut serta membangun kerajaan Allah dengan berlaku adil sejak dari pikiran. Berbuat cinta kasih kepada siapapun terlebih mereka yang putus asa, miskin dan terpinggirkan. Kerajaan Allah itu bukanlah sesuatu yang jauh, diluar dunia ini namun berada bersama kita, kini dan disini. Hadir bersama kita.

    Kerajaan Allah berarti Allah yang menjadi rajanya. Kita menyesuaikan diri dengan rencana Allah. Dengan kita saling menolong, tidak berbicara bohong, dan saling mendahului dalam member hormat. Kita menghormati seseorang bukan karena dia layak dihormati tapi karena kita sendiri adalah orang terhormat. Menang melawan musuh namun mengalah berhadapan dengan kawan dan teman.

    Cinta tak perlu pengorbanan. Pada saat kamu merasa berkorban berati pada saat itu cintamu mulai pudar. Ketika cinta makin berkurang maka kesalahan makin terlihat. Karena itu cintailah dulu selaniutnya akan lebih mudah, Seperti kata Ibu Teresa dari Calcutta: “Cinta dan kasih sayang dimulai dari rumah, dan cinta bukanlah seberapa banyak yang kita perbuat. melainkan seberapa besar cinta yang kita berikan dalam perbuatan itu." Perbuatan baik itu bisa berupa pelayanan.

    Melayani bukanlah sejauh saya ada waktu namun dengan istimewa saya alokasikan waktuku yang begitu berharga untuk Tuhan dan sesama. Ini tidak mudah karena itulah sulit dan berharga. Dengan demikian kita menampakkan wajah Allah yang meraja dengan damai.

    Tuhan memberkati,
    Fr Martinus Situmorang OFMCap

  • Saudara-saudari terkasih umat ICF yang hatinya baik,

    Kisah panggilan Petrus dari penjala ikan ke penjala manusia dituturkan dalam Lukas 5:1-11. Berdasarkan latar belakang pengalaman Petrus, saya sangat mengerti alasan Petrus sedikit keberatan ketika Yesus memintanya untuk bertolak lebih dalam dan melempar jala untuk menangkap ikan padahal mereka sudah sepanjang malam bekerja, "Guru, telah sepanjang malam kami terus bekerja tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga".

    Petrus seorang nelayan. Pastilah dia tahu membaca situasi kapan banyak ikan atau tidak, di mana bisa menangkap ikan besar atau kecil, kepiting, teripang atau sekedar udang. Dalam hati kecil Petrus mungkin terbersit, "Kok Yesus anak Tukang Kayu mengajari nelayan menangkap ikan?" Karena Yesuslah menyuruhnya, dia lakukan juga. Artinya Petrus sungguh percaya bahwa Yesus memiliki kuasa dan pengetahuan yang jauh mengatasi pengetahuan dan kecakapan Petrus. Demikian memang terjadi. Sehingga Petrus pun berhasil menangkap banyak ikan besar, sampai jala mereka mulai koyak. Peristiwa itu membuat Petrus semakin hormat dan percaya pada-Nya, sekaligus merasa tidak layak berdiri di hadapan Yesus, sehingga ia berkata, "Tuhan pergilah dari sini, sebab aku orang berdosa".

    Bersama Yesus kita akan sukses dalam menggapai cita-cita dan perjuangan bersama. Mungkin, suatu waktu kita merasa gagal, entah dalam pekerjaan, kesehatan, membangun idealisme yang baik, membangun semangat pertobatan dan komitmen. Akan tetapi, bila kita membuka hati, kita pasti berhasil. Kita harus belajar dari Petrus, yakni dengan rendah hati dan terbuka menanggapi suara Tuhan. Sekalipun dia seorang yang lebih ahli dari segi ilmu kenelayanan di Danau Genesaret, dia tetap terbuka mendengarkan suara Tuhan sehingga hasil melimpah. Kita pun harus belajar mendengar suara setiap insan, sekalipun mungkin kita pikir tidak begitu cemerlang karena keterbatasan latar belakangnya, sebab mungkin Tuhan memberikannya sebagai petunjuk untuk kita.

    Kesombongan hanya membawa kita pada kehinaan diri dan kejatuhan yang mendalam. Tetaplah mawas diri dan rendah hati karena diatas langit masih ada langit. Sombong karena materi mudah terlihat namun sombong karena pengetahuan apalagi sombong karena kebaikan sulit diidentikasi seperti merasa lebih bermoral, lebih pemurah, lebih banyak jasanya, lebih banyak kontribusi, lebih tulus dan merasa lebih dari yang lain. Tidak ada yang lebih membebaskan selain tulus dan move on.

    Semakin berumur apalagi setelah diatas 65 tahun dengan tuntutan kerja makin berkurang (pension) kita sering bernostalgia seperti berikut ini: “Saya dulu adalah ..., Saya dulu pernah ...,” anak muda tidak suka itu. Seberjasa apapun kamu merasa dirimu tidak perlu kamu ceritakan kecuali diminta untuk menghindarkanmu dari kekecewaan.

    Tuhan memberkati,
    Fr Martinus Situmorang OFMCap

  • Saudara-Saudari umat ICF yang hatinya baik,

    Bunda Gereja Katolik yang satu dan apostolik merayakan Hari Raya St. Fransiskus (Keluarga Fransiskan) setiap tanggal 4 Oktober setiap tahun. Santo Fransiskus dikenal sebagai pembawa damai, pelindung lingkungan hidup dan Paus kita sekarang mengambil namanya. Pada zaman St. Fransiskus Assisi (1182-1226), Gereja mengalami kemerosotan dalam banyak hal, termasuk moral. Pada masa itu ada banyak usaha banyak orang untuk membarui Gereja, termasuk dengan cara yang keras dan kasar seperti bidaah dan demonstrasi. Berkat bisikan Roh Allah Fransiskus menyadari situasi buruk Gereja pada zamannya, dan terdorong untuk memperbaruinya. Di Gereja San Damiano, dia mendengar suara yang berseru, "Fransiskus, Perbaikilah Gereja-Ku".

    Mulanya St. Fransiskus tidak memahami sepenuhnya arti suara itu, maka dia mulai memperbaiki fisik gedung gereja San Damiano. Akan tetapi secara perlahan dia mengerti. Dia pun mulai membarui gereja dengan pertobatannya. Dia meninggalkan hidup hedonistik, materialistic yang jauh dari Tuhan menjadi dekat dengan Tuhan. Dia pun makin bersaudara dengan semua orang. Dia tidak mencela perilaku buruk orang lain pada zamannya, termasuk banyak imam, tetapi menghormati mereka sepenuhnya. Fransiskus menghidupi dan menghadirkan semangat pembaruan dengan kelemahlembutan. Dalam gerakan pertobatannya ia diikuti banyak orang. Pesan yang sama diberikan kepada mereka. Fransiskus adalah teladan pembaharu dakam semangat kelemahlembutan.

    Semangat tersebut diambil Fransiskus dari Yesus Kristus, Sang Guru dan Penyelamat kita. Sebagaimana tampak dalam Injil Matius 11:25-30, "Marilah belajar dari padaKu, ... sebab Aku lemah lembut dan rendah hati". Kini kita juga diajak untuk terus menghidupi dan menghidupkan semangat pembaharuan dengan lembut dan penuh kerendahan hati seturut semangat Yesus dan teladan St. Fransiskus, baik dalam bernegara, bermasyarakat dan bergereja terutama dikomunitas kita.

    Menerima Yesus merupakan jalan keselamatan terindah, terbaik dan teragung dari Tuhan. Dia telah menyatakan kasih dan keselamatan Tuhan dengan rela turun dari surga menjadi manusia, menyatakan kasih dan kemurahan Allah dengan membangun kerajaan penuh kasih dan damai serta keadilan, menyatakan dan memberikan teladan kasih yang menyelamatkan lewat kurban salib. Maka, kalau mau selamat, mari kita menerima-Nya sepenuhnya. Mari kita juga menghidupi jalan-Nya dalam hidup harian kita, agar semakin banyak orang datang dan mendekat pada Yesus, serta menerima-Nya sebagai jalan keselamatan. Tuhan memberkati.

    Pace e bene,
    Fr Martinus Situmorang OFMCap

Previous
Previous

Pesan Uskup Agung Mark Coleridge untuk Umat Komunitas Multibudaya

Next
Next

Arsip Warta ICF: Sapaan Pastor 2022