Chaplain’s Note: March 2026
Minggu Prapaskah II
1 Maret 2026
Peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung adalah suatu momen istimewa bagi Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka sungguh melihat kemuliaan Yesus yang sesungguhnya, dimana wajahNya bercahaya dan pakaianNya berkilau putih. Sekilas, mereka diperlihatkan siapa Yesus sebenarnya, yaitu Putra Allah yang mulia.
Setelah peristiwa kemuliaan tersebut, para murid harus kembali menghadapi perjalanan menuju Yerusalem, menuju kesengsaraan Yesus. Iman bukan hanya soal menikmati pengalaman rohani yang menyenangkan. Iman adalah kesediaan untuk mendengarkan dan taat, bahkan ketika Yesus mengajak kita turun dari gunung menuju kenyataan hidup yang penuh tantangan.
Momen transfigurasi ini menguatkan mereka, dan kita, sebelum penderitaan datang. Demikian juga dalam hidup kita, Tuhan memberi kita saat-saat terang sebagai penguatan iman sebelum kita menghadapi suatu pergumulan. Namun perlu kita ingat bahwa terang itu bukanlah tujuan akhir, tetapi adalah agar kita semakin percaya dan setia.
Semoga hati kita semakin peka untuk mendengar dan berani mengikuti Dia, baik di atas gunung kemuliaan maupun di jalan salib kehidupan. Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Minggu Prapaskah III
8 Maret 2026
Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur Yakub adalah momen transformasi yang menyentuh identitas, ibadah, dan keselamatan. Yesus, yang letih, meminta air dari perempuan Samaria, mengejutkan karena orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Percakapan mereka berkembang dari hal praktis ke hal rohani, dan Yesus menawarkan "air hidup" yang memuaskan dahaga jiwa.
Perempuan itu menyadari Yesus mengetahui hidupnya, termasuk masa lalunya, dan menyebut-Nya nabi. Yesus mengungkapkan penyembahan sejati bukan soal tempat, melainkan roh dan kebenaran. Ia menyatakan diri-Nya sebagai Mesias, kepada seorang perempuan Samaria dengan riwayat hidup yang rumit.
Perempuan Samaria mengalami transformasi, menjadi saksi dan memberitakan tentang Yesus. Banyak orang percaya karena kesaksiannya, dan lebih banyak lagi percaya setelah mendengar langsung dari Yesus. Kisah ini menunjukkan kasih karunia Allah yang melampaui batas sosial, etnis, dan moral. Keselamatan ditawarkan kepada semua orang, dan siapa pun bisa menjadi penyembah sejati.
Kitapun berjumpa dengan Sang Air Hidup itu setiap kali kita merayakan Ekaristi yang menyegarkan, menghapus dahaga spiritual, dan mengubah hidup kita. Semoga. Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Minggu Prapaskah IV
15 Maret 2026
Yesus bertemu seorang pria buta sejak lahir. Murid-muridnya bertanya, "Siapa yang salah, dia atau orang tuanya?" Yesus jawab, "Bukan karena dosa, tapi supaya Allah bekerja dalam dia." Yesus buat lumpur, oles ke mata orang itu, dan suruh dia basuh di Kolam Siloam. Setelah basuh, dia bisa lihat!
Buta adalah simbol kita yang gak bisa lihat kebenaran, kasih Allah, dan tujuan hidup. Banyak orang bisa lihat secara fisik, tapi "buta" secara rohani. Mereka gak peka sama Tuhan, gak bisa lihat orang lain dengan kasih. Yesus kasih mata baru: cara pandang baru ke dunia, diri sendiri, dan Allah.
Kita juga pernah "buta" dalam hidup, gak tahu arah, gak ada harapan. Saat itu, kita diajak datang ke Yesus, biarkan Dia ubah cara pandang kita. Yesus buka mata kita, bukan cuma lihat fisik, tapi lihat dengan iman. Kita dipanggil jadi saksi, sebar terang Kristus ke dunia yang gelap. Semoga. Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Minggu Prapaskah V
22 Maret 2026
Kisah kematian dan kebangkitan Lazarus sangat menggugah karena menunjukkan kuasa Yesus atas kematian dan kedalaman emosi serta iman yang terungkap. Lazarus adalah saudara Marta dan Maria, yang tinggal di Betania dan bersahabat baik dengan Yesus. Ketika Lazarus sakit, mereka mengirim kabar ke Yesus, tapi Yesus menunda kedatangan-Nya. Saat Yesus tiba, Lazarus sudah mati dan dikubur empat hari.
Yesus menyatakan, "Akulah kebangkitan dan hidup. Siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yoh. 11:25). Yesus bukan hanya memberi hidup, tapi Dia adalah sumber hidup itu sendiri. Dia menangis bersama keluarga Lazarus, lalu berseru, "Lazarus, keluarlah!" dan Lazarus hidup kembali.
Kebangkitan Lazarus memperdalam konflik Yesus dengan pemimpin agama Yahudi. Banyak orang percaya kepada Yesus, tapi para pemimpin merasa terancam dan merencanakan membunuh Dia. Sukacita hidup beriman seringkali bersamaan dengan kecemburuan dan kebencian pihak-pihak yang merasa terganggu. Kisah ini menunjukkan bahwa iman kepada Yesus membawa hidup, tapi juga bisa menimbulkan perlawanan dari mereka yang tidak percaya. Dengan kebangkitan Lazarus, Yesus menunjukkan kuasa-Nya atas kematian dan mengajak kita percaya kepada-Nya sebagai sumber hidup. Semoga. Amin.
Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Minggu Palma
29 Maret 2026
Kisah sengsara Yesus menunjukkan kasih-Nya yang tak tergoyahkan. Dia dikhianati, disangkal, dan disalibkan, tetapi tetap mengasihi. Yesus tahu penderitaan yang menanti-Nya, tapi tetap memilih jalan salib demi keselamatan kita. Dalam setiap langkah-Nya menuju Golgota, kita melihat ketaatan yang total dan kasih yang melampaui batas manusia.
Dari lingkaran terdekat, para murid yang dipanggil untuk menyertai Dia, kita bahkan menyaksikan pengingkaran dan pengkhianatan. Yudas menjual Dia, Petrus menyangkal Dia, dan murid-murid lain melarikan diri. Dalam saat-saat yang gelap, Yesus ditinggalkan oleh mereka yang paling dekat dengan-Nya. Namun, Yesus tetap setia, tidak melawan, tidak membalas, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Bahkan di atas salib, Ia masih mampu berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Salib bukanlah akhir cerita, tapi bukti bahwa kasih sejati tidak pernah menyerah. Kasih Yesus tetap tinggal, meskipun dikhianati dan ditolak. Kasih yang tidak menuntut balasan, tapi memberi diri sepenuhnya. Semoga. Amin.
Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap