Chaplain’s Note: April 2026

Kamis Putih
2 April 2026

Kamis Putih adalah hari yang spesial bagi umat Kristen, karena kita merayakan kasih Yesus yang luar biasa. Dia memberikan tubuh dan darah-Nya kepada kita, dan membasuh kaki para murid-Nya sebagai contoh kerendahan hati. Yesus ingin kita merasakan kehangatan kasih-Nya, dan menjadi bagian dari komunitas yang satu dalam kasih.

Petrus awalnya menolak dibasuh kaki oleh Yesus, karena merasa tidak pantas. Tapi Yesus berkata, "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak akan mendapat bagian bersama Aku." Ini berarti, kita hanya dapat menjadi bagian dari kasih Yesus jika kita menerima kasih-Nya dan membagikannya kepada orang lain.

Mari kita rayakan Kamis Putih ini dengan membuka hati kita untuk menerima kasih Yesus. Semoga kita dapat merasakan kehangatan kasih-Nya, dan menjadi bagian dari komunitas yang menyebarkan kasih itu kepada orang lain. Dengan demikian, kita dapat menjadi satu dalam kasih Kristus, dan tidak ada yang terabaikan. Semoga. Amin.

Fr Gabriel Simatupang OFMCap


Jumat Agung
3 April 2026

Kata "Sudah selesai" yang diucapkan Yesus di kayu salib memiliki makna yang sangat dalam. Tetelestai, kata Yunani yang digunakan, berarti "sudah diselesaikan" atau "sudah digenapi". Ini menunjukkan bahwa Yesus telah menyelesaikan misi-Nya dengan setia dan taat kepada Bapa.

Yesus tidak menyerah, meskipun Dia menghadapi kesulitan dan penderitaan yang luar biasa. Dia memikul salib dengan cinta dan ketaatan, sehingga karya keselamatan itu masih dirasakan hingga sekarang. Ini adalah contoh bagi kita untuk tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan.

Semoga kita dapat mengikuti contoh Yesus, memikul salib kita dengan setia dan sukacita. Tuhan selalu bersama kita, memikul salib-salib kita, dan memberikan kekuatan untuk kita. Dengan demikian, kita dapat menyelesaikan perjalanan hidup kita dengan baik, dan suatu saat dapat mengatakan, "Sudah selesai" dengan sukacita dan kemenangan. Semoga. Amin.

Fr Gabriel Simatupang OFMCap


Sabtu Suci
4 April 2026

Kebangkitan Yesus mengajak kita untuk bangkit dari rasa takut dan kenyamanan dosa. Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi menengok kubur Yesus, menunjukkan kebangkitan dari rasa takut dan cinta yang mendalam pada Guru mereka. Sebaliknya, para penjaga sangat ketakutan saat kebangkitan Yesus dikabarkan.

Yesus menyapa dua perempuan ini, "Salam bagimu. Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." Pengalaman Paskah hendaknya menggulingkan rasa takut yang kerap kali membuat kita nyaman dalam sedih dan keterpurukan.

Semoga kita dibangkitkan kembali untuk menjadi saksi kasih dan sukacita di "Galilea" hidup kita sehari-hari. Lilin Paskah yang menyala dalam kegelapan memberikan kita harapan. Mari kita bangkit dari rasa takut dan dosa, dan menjadi saksi-saksi Kristus yang hidup dan bangkit. Jangan takut. Semoga.

Fr Gabriel Simatupang OFMCap


Hari Raya Paskah
5 April 2026

Kebangkitan Yesus adalah peristiwa penting dalam agama Kristen, tapi tidak ada laporan detail tentang bagaimana itu terjadi. Yang jelas, orang-orang terdekat Yesus yakin bahwa Dia tidak lagi berada di antara orang mati. Mereka yang datang mencari Dia di makam menemukan bahwa Dia telah bangkit.

Kebangkitan Yesus membawa harapan bagi kita semua. Yesus tidak dikalahkan oleh maut, dan Dia memberikan harapan kepada kita yang sering diliputi kegelapan, kesukaran, dan kesedihan. Iman kepada Yesus tidak selalu mudah, kadang-kadang kita harus berjalan di tengah kegelapan, tapi kita tahu bahwa Yesus bangkit dan menjadi sumber pengharapan kita.

Untuk merawat pengharapan itu, kita perlu mengingatnya dalam doa, hidup, dan tugas kita. Kita diutus untuk menceritakan kebaikan hati Tuhan kepada banyak orang. Mereka yang bisa tersenyum dan mengatakan "Tuhan mengasihiku dan mengasihimu" adalah peziarah-peziarah pengharapan. Semoga. Amin.


Fr Gabriel Simatupang OFMCap


Minggu Paskah II
12 April 2026

Kerahiman Ilahi dapat kita renungankan dalam tiga huruf ini yakni ABC: Ask (Memohon), Completely trust (Percaya Penuh), dan Berbelas Kasih. Ini menekankan hubungan kita dengan Allah dan tindakan kasih kepada sesama.

Tomas percaya penuh pada kebangkitan Yesus karena Yesus membiarkan dia menyentuh luka-luka-Nya. Ini membuat Tomas berseru, "Ya Tuhanku dan Allahku." Memohon belas kasih Allah dan percaya penuh kepada-Nya mendorong kita untuk berbelas kasih kepada sesama.

Kita diundang untuk mewujudkan kerahiman Allah kepada orang lain, tanpa memandang agama, status sosial, atau latar belakang mereka. Jika kita percaya Allah berbelas kasih kepada kita, kita juga harus menunjukkan kasih itu kepada orang lain. Mampukah kita melakukan ini?

Semoga. Amin.


Fr Gabriel Simatupang OFMCap


Minggu Paskah III
19 April 2026

Kedua murid yang berjalan menuju Emaus dipenuhi duka dan kebingungan. Mereka berharap Yesus akan membebaskan Israel, tetapi mereka melihat Dia disiksa dan disalibkan. Yesus dimakamkan, dan pada pagi itu beberapa perempuan mengatakan bahwa makam-Nya kosong. Para perempuan itu juga bercerita tentang malaikat yang mengatakan bahwa Yesus hidup. Petrus dan Yohanes berlari ke makam dan hanya menemukan kain kafan. Para murid tidak tahu harus berpikir apa. Saat berjalan tujuh mil dari Yerusalem ke Emaus, mereka berbagi kesedihan dan berusaha memahami semua yang terjadi. Yesus datang dan berjalan bersama mereka, tetapi mata mereka terhalang untuk mengenali Dia. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus sering dekat dengan kita, namun kita tidak menyadari-Nya. Kekhawatiran, luka, dan pemikiran yang salah dapat membuat kita buta secara rohani. Kita sering tidak melihat kehadiran-Nya dalam Ekaristi, Kitab Suci, Gereja, doa, dan dalam sesama.

Yesus mendengarkan mereka lalu berbicara dengan kasih dan kebenaran. Ia berkata, “Betapa lamban hatimu untuk percaya segala sesuatu yang dikatakan para nabi. Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Ketika kita bingung atau buta, Yesus mengatakan hal yang sama kepada kita. Ia ingin kita rendah hati dan mengakui bahwa kita tidak dapat melihat dengan jelas tanpa bantuan-Nya.

Lalu Yesus membuka Kitab Suci bagi mereka. Ia menjelaskan bagaimana seluruh Perjanjian Lama menunjuk kepada diri-Nya. Inilah karunia pengertian. Karunia ini tidak dapat kita peroleh dengan usaha sendiri. Karunia itu datang hanya ketika kita rendah hati dan memohon agar Allah membuka pikiran kita. Allah siap mengajar kita, tetapi kita harus mau mendengarkan dan belajar. Saat kita melepaskan kesombongan, Ia menunjukkan kebenaran dan menumbuhkan iman kita.

Ketika sampai di Emaus, para murid meminta Yesus untuk tinggal. Di meja makan, Yesus mengambil roti, memberkatinya, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka. Seketika mata mereka terbuka dan mereka mengenali Dia, tetapi Ia lenyap dari pandangan mereka. Meski tidak terlihat lagi, Yesus tetap bersama mereka. Ia tetap hadir bagi kita hari ini dalam Ekaristi. Pemecahan roti itu adalah Misa Kudus. Dalam setiap Misa, Yesus memberikan diri-Nya kepada kita dalam rupa roti dan anggur. Ia juga hadir dalam Sabda-Nya. Saat kita membaca Kitab Suci, berdoa bersama Gereja, dan menerima sakramen, Yesus menghapus keraguan dan menguatkan iman kita. Seperti para murid, kita mungkin mulai dengan duka dan bingung. Tetapi bila kita membiarkan Yesus mengajar lewat Sabda-Nya dan menjumpai Dia dalam Ekaristi, hati kita akan berkobar dan mata kita terbuka. Ia menuntun kita dari kebingungan menuju iman, dari kesedihan menuju sukacita. Semoga. Amin.


Fr Gabriel Simatupang OFMCap


Minggu Paskah IV
26 April 2026

Bayi sering takut pada orang asing. Ia hanya tenang dalam pelukan ibunya yang memberi makan dan kasih. Saat orang lain menggendongnya, bayi menangis sampai kembali ke ibunya. Seperti bayi, domba hanya mengenal suara gembalanya. Gembala hidup bersama domba, memanggil, dan menuntunnya ke padang rumput hijau. Jika orang asing memanggil, domba tidak ikut.

Yesus berkata, “Aku datang supaya yang tidak melihat dapat melihat, dan yang melihat menjadi buta.” Orang Farisi marah dan bertanya apakah Yesus menyebut mereka buta. Yesus menjawab, “Karena kamu berkata ‘Kami melihat,’ dosamu tetap ada.” Bayi takut pada orang asing karena polos. Orang Farisi menolak Yesus karena sombong. Orang buta yang disembuhkan mengenal suara Yesus dengan iman sederhana. Orang Farisi yang merasa pintar justru tidak mendengar suara Gembala yang Baik. Mereka menganggap Yesus orang asing.

Tuhan memanggil kita setiap hari. Apakah kita kenal suara-Nya? Atau kita menolak seperti orang Farisi? Mengikuti Gembala yang Baik berarti menjadi akrab dengan-Nya, seperti bayi dengan ibunya atau domba dengan gembalanya. Jika kita tidak kenal suara-Nya, kita akan tersesat. Yesus ingin menuntun, menjaga, dan membawa kita ke hidup yang berkelimpahan. Dengarkan suara-Nya saja. Seperti orang buta yang disembuhkan, kita pun akan mulai melihat dengan mata iman. Semoga. Amin.


Fr Gabriel Simatupang OFMCap

Next
Next

Chaplain’s Note: March 2026