Chaplain’s Note: February 2026
Minggu Biasa IV
1 Februari 2026
Yesus mengajak kita menempuh jalan yang berlawanan dengan logika dunia. Dia tidak menawarkan popularitas atau kekuasaan, tapi hati yang bersih, sikap damai, dan keberanian untuk hidup benar di tengah ketidakadilan. Sabda Bahagia mengundang kita untuk hidup sederhana, rendah hati, dan terbuka kepada Tuhan.
Kita dipanggil untuk membangun masyarakat yang adil, damai, dan manusiawi. Dunia kita hari ini penuh dengan berita palsu, ujaran kebencian, dan budaya membuang yang lemah. Kita harus menjadi "orang-orang yang membawa damai" dengan tindakan konkret, seperti menolak korupsi dan memperjuangkan yang tertindas.
Hidup bahagia menurut Injil berarti hidup yang memberi diri bagi sesama. Ketika kita berdiri bersama yang kecil dan tersingkir, memaafkan, dan memilih kebenaran, di sanalah Kerajaan Allah hadir. Mari kita menjadi umat yang rendah hati dan tulus, membawa terang Kristus dalam dunia yang gelap.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Minggu Biasa V
8 Februari 2026
Ibadah sejati bukan hanya doa dan ritual, tapi tindakan kasih kepada sesama. Yesus berkata, "Kamu adalah garam dan terang dunia" (Mat 5:13-14). Kita dipanggil memberi rasa dan menghalau kegelapan.
Menjadi garam dan terang bukan soal kata-kata, tapi hidup sehari-hari: jujur, murah hati, dan teguh dalam iman. Santo Paulus berkata, kekuatan pewartaan ada di kuasa Allah, bukan kepandaian manusia (1Kor 2:1-5).
Kita dipanggil jadi garam dan terang yang nyata: membela yang lemah, peduli lingkungan, jujur bekerja. Dengan itu, orang akan memuliakan Bapa di surga melalui hidup kita. Tuhan jadikanlah hidupku sebagai garam dan terang yang membangkitkan harapan dan semangat hidup bagi sesama. Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Minggu Biasa VI
15 Februari 2026
Yesus menyembuhkan orang buta, bukan karena dosa, tapi supaya pekerjaan Allah dinyatakan. Buta adalah lambang keterbatasan manusia dalam melihat keadilan dan kebenaran.
Yesus memberi nuansa baru: cara pandang baru terhadap dunia, diri, dan Allah. Kolam Siloam simbol "Yang Diutus" - Yesus sendiri. Dia buka mata rohani kita untuk melihat iman.
Kita dipanggil jadi saksi, mewartakan terang Kristus pada dunia gelap. Biarkan Yesus sentuh dan ubah cara pandang kita. Semoga. Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Rabu Abu
18 Februari 2026
Masa Prapaskah dimulai dengan ajakan: "Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hati" (Yl 2:12). Pertobatan sejati bukan simbol luar, tapi perubahan hati. "Koyakkanlah hatimu, jangan pakaianmu."
Paulus menyerukan, "Berilah dirimu didamaikan dengan Allah!" (2 Korintus 5:20). Pertobatan adalah undangan penuh kasih untuk kembali ke pangkuan Allah, membiarkan diri dipulihkan dan diperdamaikan. Kita juga diajak untuk memperbarui relasi dengan Tuhan dan sesama, sekarang juga.
Yesus mengingatkan: tobat bukan tontonan. Sedekah, doa, dan puasa hendaknya dilakukan dalam keheningan hati, bukan demi pujian atayu pengakuan manusia. Masa Prapaskah adalah saat baik untuk menata ulang motivasi hidup, jadi tanda harapan untuk sesama, alat untuk mengubah dunia di sekitar.
Selamat memulai masa Prapaskah, kiranya selama masa rahmat ini, kita menjadi tanda harapan bagi sesama, menghadirkan damai di tengah keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar.
Tuhan senantiasa memberkati kita. Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Minggu Prapaskah I
22 Februari 2026
Saudara-saudari terkasih, getaran Rabu Abu masih terasa di dahi kita. Abu itu bukan sekedar tanda, melainkan juga undangan untuk masuk ke padang gurun rohani. Di Minggu Prapaskah I, sabda Tuhan menantang kita dengan pertanyaan dasar: Seberapa setia kita kepada Allah? Adam dan Hawa jatuh bukan semata-mata karena buah terlarang, tetapi karena mereka lupa siapa diri mereka di hadapan Allah.
Manusia diciptakan oleh kasih Allah, dibentuk dari debu, dan dihembusi napas kehidupan. Martabat kita terletak pada ketaatan kepada Sang Pencipta. Dosa lahir ketika kita menolak keterbatasan.
Yesus di padang gurun mengalami kepenuhan Roh Kudus dan kasih Bapa. Ia menghadapi godaan bukan dengan pembuktian diri, tetapi dengan kesetiaan kepada Sabda.
Prapaskah bukan sekadar menahan makan. Ini saatnya bertanya: Di mana kita menyandarkan hidup? Pada dunia atau Sabda Allah? Beranikah kita berkata “cukup” kepada dunia? Hanya orang yang milik Allah tidak perlu membuktikan apa pun.
Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap