Chaplain’s Note: June 2026
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
7 Juni 2026
Pada tahun 1994, di pedalaman Papua yang tandus, umat bertahan hidup hanya dengan air kelapa dan ikan karena ubi jalar gagal panen. Mereka mengalami kelaparan dan kehausan yang hebat. Namun, penderitaan tersebut mengingatkan kita bahwa manusia tidak hanya mengalami lapar dan haus secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Hari ini, melalui Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, kita diajak untuk datang dan menimba kekuatan dari Yesus guna memuaskan dahaga jiwa kita.
Bacaan dari Kitab Ulangan mengingatkan kita pada perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Di tengah kesulitan itu, Allah tetap menuntun, memberi makan, dan menguji kesetiaan mereka agar selalu berpegang pada perintah-Nya. Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak melupakan kasih setia Tuhan, karena segala sesuatu yang kita miliki berasal dari-Nya. Melalui Perayaan Ekaristi, roti yang dipecahkan dan anggur yang dicanangkan menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang mempersatukan serta memberi kita kehidupan.
Dalam Injil, Yesus dengan tegas menyatakan diri-Nya sebagai "Roti Hidup" yang turun dari surga. Siapa saja yang makan dari roti ini akan memperoleh kehidupan kekal. Dengan menyambut Tubuh dan Darah-Nya dalam Ekaristi, kita tidak hanya mengenang pengorbanan-Nya, tetapi juga menyatu secara mendalam dengan Kristus yang menjadi sumber kekuatan sejati kita. Mari kita menyambut sakramen kudus ini dengan penuh iman, rasa syukur, dan kerendahan hati yang tulus. Semoga. Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Minggu Biasa XI
14 June 2026
Pengikut Kristus dipanggil menjadi Rasul Belaskasih
Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan kita akan panggilan Tuhan untuk mengasihi, mengampuni, dan berani berbagi iman. Dalam Kitab Keluaran, kita melihat bagaimana Allah berinisiatif memanggil Musa demi keselamatan umat-Nya.
Sementara itu, Surat Roma menjelaskan kondisi manusia yang lemah dan terikat dosa, sehingga sangat membutuhkan belas kasih serta pengampunan dari Tuhan.
Dalam Injil, Yesus merasa iba melihat orang banyak yang menderita. Ia kemudian mengutus para murid-Nya untuk menyebarkan kabar baik dan menyembuhkan sesama. Panggilan ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu mengambil langkah pertama untuk melibatkan kita dalam rencana-Nya. Hal ini mengandaikan adanya hubungan yang dekat dan akrab antara kita dengan Tuhan.
Kita semua dipanggil untuk meneladani Yesus melalui tindakan nyata, tutur kata yang menyejukkan, dan sikap penuh pengampunan. Selain itu, kita juga bertanggung jawab untuk membagikan iman kepada orang lain. Kesaksian hidup, ajaran, dan tindakan kasih yang tulus adalah cara terbaik untuk menunjukkan belas kasih Tuhan kepada dunia. Semoga. Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Minggu Biasa XII
21 June 2026
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan pesan Yesus kepada para murid-Nya: “Jangan takut.” Pesan ini disampaikan oleh Yesus bukan ketika situasi sedang aman dan nyaman, melainkan saat para murid akan diutus untuk mewartakan Sabda-Nya, bersiap untuk menghadapi penolakan, tantangan, bahkan penganiayaan.
Ketakutan adalah bagian dari hidup manusia. Seringkali kita takut gagal, ditolak, kehilangan, atau tidak diterima oleh lingkungan sekitar. Namun, Yesus mengingatkan bahwa kita sungguh berharga di mata Allah. Jika burung pipit yang kecil saja diperhatikan oleh-Nya, terlebih lagi setiap pribadi yang dikasihi-Nya.
Karena itu, iman bukanlah hidup tanpa rasa takut, melainkan keberanian untuk tetap percaya bahwa Tuhan menyertai kita di tengah ketakutan itu. Yesus mengundang kita untuk tidak menyembunyikan terang Injil, tetapi mewartakannya melalui perkataan, sikap, dan tindakan kasih kita setiap hari.
Maka percayalah akan penyelenggaraan Allah, dan tidak takut untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Allah menjamin bahwa kebenaran akan dinyatakan, dan kesetiaan dalam mengakui Dia akan dibalas di surga. Semoga. Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap
Minggu Biasa XIII
28 June 2026
"Tuhan ajari aku untuk memahami kehendak-Mu"
Dalam bacaan pertama, kita melihat betapa besarnya kebaikan dan kasih sayang Tuhan melalui kisah Nabi Elisa. Tuhan menolong seorang perempuan Yahudi yang miskin dan belum memiliki anak dengan memberikan mukjizat luar biasa, yaitu janji bahwa ia akan segera mendapatkan keturunan. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa Tuhan selalu peduli, mendengar doa, dan siap membantu siapa saja yang sedang mengalami kesusahan hidup.
Sementara itu, bacaan Injil mengingatkan kita untuk selalu menempatkan kasih kepada Tuhan di atas segala-galanya dalam hidup ini. Kita diajak untuk setia menjawab panggilan-Nya dan tulus melayani sesama dengan penuh cinta, perhatian, serta semangat berkorban. Kebaikan yang kita terima dari Tuhan sudah sepatutnya kita bagikan kembali kepada orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang sangat membutuhkan bantuan.
Terakhir, Rasul Paulus mengingatkan kita akan makna baptisan yang telah kita terima. Melalui baptisan, hidup lama kita yang penuh dosa telah dikuburkan bersama Kristus agar kita bisa bangkit dan memulai hidup yang baru. Hidup baru ini berarti kita berkomitmen untuk terus berjalan bersama Kristus, selalu mencari apa yang menjadi kehendak-Nya, dan menjadikan Tuhan sebagai pusat utama dari seluruh kehidupan kita sehari-hari. Semoga. Amin.
Fr Gabriel Simatupang OFMCap